Prosa Kematian Bahasa
Ke mana harus menyingkir
Dari kepungan ketakutan demi ketakutan
Yang kerap mengincar diriku? Di kegelapan, darah
Dan kemiskinan selalu diucap pisau berulang-ulang.
Salak anjing bersekutu dengan maut
Yang liar dan bengis. Dengar erangannya,
Bahasa jembatan penghubung antara kita
Roboh sudah diterjang
Badai kehidupan yang kelam.
Kampung-kampung lenyap sudah ditelan naga merah,
Digilas by-pass, dan jalan layang. Langkah kita diburu
Ribuan mata tombak berlumur racun kehidupan
Keasingan menjulang di situ, lebih runcing
Dari mata paku atau jarum kecos.
Apakah cinta, apakah belas kasih
Jika gemuruh peradaban selalu mengucap pisau?
Lalu mayat terapung di sungai, tersungkur
Di tegalan; dirubung lalat dan belatung,
Dan bahasa telah lama dikuburkan
Bersama kamus yang mati
Dari makna dan hakekat
Pergaulan manusia
1987
Sumber: Kita Lahir Sebagai Dongengan (2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Prosa Kematian Bahasa" karya Soni Farid Maulana merupakan puisi kritik sosial yang keras, gelap, dan penuh kegelisahan. Didedikasikan “untuk Rendra”, puisi ini seolah berdialog dengan tradisi kepenyairan yang lantang, berpihak pada kemanusiaan, dan berani menyuarakan ketidakadilan. Bahasa dalam puisi ini tidak hanya menjadi alat ungkap, tetapi juga tema sentral yang dipertanyakan keberadaannya di tengah kekerasan peradaban.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kematian bahasa dan kemanusiaan di tengah kekerasan, ketakutan, dan pembangunan yang menindas. Bahasa diposisikan sebagai korban dari peradaban yang kehilangan nurani.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terjebak dalam kepungan ketakutan, kemiskinan, kekerasan, dan keterasingan. Kampung-kampung digusur, manusia diburu, mayat-mayat bergelimpangan, sementara bahasa—sebagai jembatan pergaulan manusia—telah roboh dan dikuburkan bersama makna serta hakikatnya.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa ketika kekerasan, ketakutan, dan kepentingan ekonomi menjadi bahasa utama peradaban, maka bahasa kemanusiaan akan mati. Pisau, tombak, dan naga merah menjadi metafora dominasi kekuasaan dan pembangunan brutal yang menyingkirkan manusia kecil. Bahasa tak lagi berfungsi sebagai alat dialog, melainkan tergantikan oleh ancaman dan ketakutan.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi sangat mencekam, gelap, brutal, dan penuh keputusasaan. Bayangan maut, darah, binatang buas, serta mayat yang membusuk menciptakan atmosfer yang menekan dan tidak memberi ruang aman bagi kemanusiaan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa tanpa bahasa yang bermakna—yang lahir dari cinta, belas kasih, dan dialog—peradaban hanya akan melahirkan kekerasan dan keterasingan. Penyair mengingatkan pentingnya menjaga bahasa sebagai alat kemanusiaan, bukan membiarkannya mati oleh ketakutan dan kebungkaman.
Puisi "Prosa Kematian Bahasa" adalah puisi perlawanan yang menolak kebisuan. Soni Farid Maulana, dengan nada yang lantang dan getir, menunjukkan bahwa ketika bahasa kehilangan makna, manusia kehilangan kemanusiaannya. Puisi ini tidak hanya menjadi kritik sosial, tetapi juga seruan agar bahasa kembali hidup sebagai ruang perjumpaan, bukan sekadar sisa yang dikuburkan oleh peradaban yang bengis.
Puisi: Prosa Kematian Bahasa
Karya: Soni Farid Maulana
Biodata Soni Farid Maulana:
- Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
- Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
