Analisis Puisi:
Puisi “Prosesi” karya Leon Agusta merupakan puisi pendek dengan larik-larik yang sederhana, namun menyimpan kegelisahan eksistensial yang kuat. Dengan pilihan kata yang ekonomis, puisi ini mengajak pembaca merenungkan makna keterasingan manusia modern dan bagaimana kesunyian bisa menjadi akhir dari sebuah proses sosial yang panjang.
Tema
Tema utama puisi Prosesi adalah kesenyapan relasi manusia. Puisi ini menyoroti kondisi ketika manusia masih berada dalam ruang yang sama, bahkan masih berbicara, tetapi kehilangan makna perjumpaan yang sejati. Kesunyian bukan hadir karena ketiadaan suara, melainkan karena hilangnya keterhubungan batin. Puisi ini bercerita tentang proses menuju senyap—sebuah prosesi yang berlangsung perlahan dan nyaris tak disadari.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa senyap bukan sekadar keadaan sunyi, tetapi hasil dari kegagalan komunikasi dan empati. Pertanyaan pembuka “Bagaimana berakhirnya senyap?” seolah menantang pembaca: apakah kesenyapan itu selesai, atau justru menjadi akhir dari kemanusiaan yang saling terhubung?
“Senyap” di sini dapat dimaknai sebagai kematian dialog, kematian perhatian, bahkan kematian kepedulian sosial.
Puisi "Prosesi" karya Leon Agusta adalah puisi yang singkat namun reflektif. Dengan bahasa yang minimalis, puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa kehampaan dalam hubungan manusia sering kali terjadi bukan karena jarak, melainkan karena ketidakpedulian yang dibiarkan tumbuh perlahan. Kesenyapan dalam puisi ini bukan datang tiba-tiba, melainkan hasil dari sebuah prosesi yang terus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Puisi: Prosesi
Karya: Leon Agusta
Biodata Leon Agusta:
- Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
- Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
- Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.