Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pucuk Bambu Menggores Luka (Karya Juniarso Ridwan)

Puisi “Pucuk Bambu Menggores Luka” bercerita tentang benturan antara alam, manusia, dan modernitas. Gambaran pucuk bambu yang “menggores luka di ...
Pucuk Bambu Menggores Luka

pucuk bambu menggores luka di angkasa,
branjangan menggelepar di celah batu,
menggetarkan hutan di ikal rambutmu.

pagi yang terbakar,
hanya parabola yang tenggelam di genangan kopi,
sambil menikmati atraksi adu tinju,
dan menerima sinyal telepon yang tersesat.

padang rumput yang dilumuri getah kemarau,
rumah-rumah memantulkan warna pucat,
langit terdampar di pematang:
hari yang temaram.

di sebuah tempat yang lekat dengan ingatan,
pucuk bambu menggores luka di angkasa,
hujan deras dan tiba-tiba sebuah kehidupan hilang.

2003

Sumber: Airmata Membara (Kelir, 2014)
Catatan:
Branjangan (mirafra javanica): burung sawah yang nyaris punah.

Analisis Puisi:

Puisi “Pucuk Bambu Menggores Luka” menghadirkan lanskap alam dan keseharian manusia yang tampak biasa, namun sesungguhnya sarat luka, kehilangan, dan kegelisahan zaman. Dengan bahasa metaforis yang padat, Juniarso Ridwan memadukan citra alam, teknologi, dan kepunahan untuk menyuarakan keresahan ekologis sekaligus kemanusiaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah luka ekologis dan keterasingan manusia di tengah perubahan zaman. Di dalamnya tersirat pula tema kepunahan, kerusakan alam, serta rapuhnya kehidupan yang berlangsung diam-diam di sekitar manusia.

Puisi ini bercerita tentang benturan antara alam, manusia, dan modernitas. Gambaran pucuk bambu yang “menggores luka di angkasa”, branjangan yang menggelepar, pagi yang terbakar, hingga sinyal telepon yang tersesat, menyusun potret dunia yang tidak lagi harmonis. Semua berlangsung di ruang yang lekat dengan ingatan, namun kini berubah menjadi tempat kehilangan.

Catatan tentang branjangan (Mirafra javanica)—burung sawah yang nyaris punah—memperkuat cerita tentang alam yang terdesak dan kehidupan yang tak lagi mendapat ruang aman.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kerusakan dan kehilangan sering hadir tanpa disadari. Luka tidak selalu berupa tragedi besar, melainkan muncul dalam keseharian: kopi pagi, tontonan adu tinju, sinyal telepon, dan rumah-rumah pucat.

Kematian “sebuah kehidupan” di akhir puisi dapat dimaknai bukan hanya kematian fisik, tetapi juga lenyapnya nilai, ingatan, dan keseimbangan antara manusia dan alam. Branjangan yang menggelepar menjadi simbol rapuhnya makhluk kecil yang tak berdaya menghadapi perubahan.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa muram, temaram, dan melankolis. Ada kesan panas, kering, dan letih yang menyelimuti lanskap, seolah dunia berada di ambang kelelahan panjang. Nuansa kehilangan terasa kuat, namun disampaikan secara tenang dan lirih.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia lebih peka terhadap luka-luka kecil di sekitar, terutama luka alam dan makhluk hidup yang sering diabaikan. Kehilangan tidak datang tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dianggap biasa. Kesadaran ekologis dan empati menjadi sikap penting yang secara implisit ditawarkan puisi ini.

Puisi “Pucuk Bambu Menggores Luka” adalah puisi yang memotret dunia dalam keadaan temaram: alam terluka, makhluk kecil terancam punah, dan manusia larut dalam rutinitas. Juniarso Ridwan menghadirkan peringatan sunyi bahwa di balik keseharian yang tampak biasa, selalu ada luka yang sedang tumbuh.

Puisi: Pucuk Bambu Menggores Luka
Puisi: Pucuk Bambu Menggores Luka
Karya: Juniarso Ridwan

Biodata Juniarso Ridwan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
© Sepenuhnya. All rights reserved.