Puisi: Qasidah (Karya Yunus Mukri Adi)

Puisi "Qasidah" karya Yunus Mukri Adi mengajak pembaca tidak sekadar mendengar lantunan qasidah, tetapi juga mendengarkan suara batin yang ...
Qasidah (1)

Menyanyi dalam qasidah. Malam pun majnun
Bertarung kulit-kulit rebana. Berpendar lampu merjan
Di beranda agung.
Aku masih tak yakin segera dinihari berusaha datang
Dalam syair yang berulang-ulang. Duduk-duduk berjajar
Kulihat, jarum jam berangkat sendirian

Qasidah (2)

Dibicarakan riwayat-riwayat.
Di hadapan audiensa
Bunyi udara menotok-notok jendela
Riwayat tetap dibacakan. Dingin sekali
Mendadak sepi membesar. Gelisah mendadak meraja.
Seorang yatim piatu, Mohammad.
Memberitakan perihal kiamat.

Pekajangan, Februari 1972

Sumber: Horison (Maret, 1974)

Analisis Puisi:

Puisi "Qasidah" karya Yunus Mukri Adi terdiri atas dua bagian yang saling berkaitan. Kedua bagian ini menghadirkan suasana religius yang kental, namun tidak hadir secara khotbah atau normatif. Penyair justru mengolah pengalaman spiritual, kegelisahan eksistensial, serta kesadaran akan waktu dan akhir kehidupan melalui simbol-simbol bunyi, malam, dan peristiwa keagamaan.

Puisi ini terasa kontemplatif, mengajak pembaca menyelami suasana batin yang gamang antara ritual, kesadaran waktu, dan pesan eskatologis.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah spiritualitas dan kegelisahan manusia di hadapan waktu dan kematian. Melalui lantunan qasidah, penyair menyoroti hubungan antara ritual keagamaan dengan kesadaran eksistensial manusia, terutama tentang kefanaan dan datangnya hari akhir.

Tema waktu juga kuat, terlihat dari penekanan pada malam, dinihari, dan jarum jam yang terus bergerak.

Puisi ini bercerita tentang suasana pelantunan qasidah di malam hari. Dalam "Qasidah (1)", penyair menggambarkan aktivitas bernyanyi, bunyi rebana, cahaya lampu, serta jamaah yang duduk berjajar. Di tengah ritual itu, tokoh aku justru diliputi keraguan dan kesadaran akan waktu yang terus berjalan, diwakili oleh “jarum jam berangkat sendirian”.

Pada "Qasidah (2)", suasana bergeser menjadi lebih serius dan tegang. Riwayat-riwayat dibacakan di hadapan audiens, diiringi udara dingin dan keheningan yang membesar. Puncaknya adalah kehadiran sosok Mohammad, seorang yatim piatu, yang memberitakan perihal kiamat.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa ritual keagamaan tidak selalu membawa ketenangan instan. Di balik lantunan qasidah, terdapat kegelisahan batin dan kesadaran akan waktu yang terus berjalan tanpa menunggu kesiapan manusia. Puisi ini menyiratkan bahwa pesan-pesan agama, termasuk tentang kiamat, sering hadir di tengah suasana yang dingin dan sepi, memaksa manusia untuk merenung lebih dalam.

Puisi ini juga menyiratkan jarak antara keramaian ritual dan kesunyian kesadaran personal.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sakral, muram, dan kontemplatif. Pada bagian pertama, suasana ritual terasa hidup namun gamang. Pada bagian kedua, suasana berubah menjadi dingin, sepi, dan gelisah, seiring pembacaan riwayat dan pemberitaan tentang kiamat.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini dapat dimaknai menyampaikan amanat agar manusia tidak hanya terhanyut dalam ritual dan bunyi, tetapi juga benar-benar menyerap makna spiritual di baliknya. Kesadaran akan waktu, kematian, dan hari akhir seharusnya mendorong refleksi dan perubahan sikap hidup.

Puisi "Qasidah" karya Yunus Mukri Adi merupakan perenungan mendalam tentang spiritualitas, waktu, dan kegelisahan manusia. Dengan bahasa yang simbolik dan atmosfer yang sakral, puisi ini mengajak pembaca tidak sekadar mendengar lantunan qasidah, tetapi juga mendengarkan suara batin yang mengingatkan tentang kefanaan dan pertanggungjawaban hidup.

Puisi Yunus Mukri Adi
Puisi: Qasidah
Karya: Yunus Mukri Adi

Biodata Yunus Mukri Adi:
  • Yunus Mukri Adi lahir pada tanggal 26 Januari 1941.
© Sepenuhnya. All rights reserved.