Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Qasidah Larut Malam (Karya Tjahjono Widarmanto)

Puisi "Qasidah Larut Malam" karya Tjahjono Widarmanto merupakan rangkaian refleksi spiritual yang ditulis dalam suasana malam, kesunyian, dan ...
Qasidah Larut Malam (1)

wirid ini tak juga selesai-selesai
sedang malam kian berlari menuju batas
gigil menorehkan sunyi melata di segenap urat nafas
angin menjaga setiap derit pintu
yang akan terbuka

berilah aku cahaya itu cukup seberkas saja
walau hanya seekor kunang-kunang
meskipun tak sebenderang bintang
atau mercu suar yang selalu menjaga gigir pantai

Qasidah Larut Malam (2)

dan air mata itu rontok juga
membasahi jalan-jalan nadi dan ruas tubuhku
embunkah itu namanya, atau cinta yang penuh pesona
obat segala sakit luka luka jiwa dirajam kangenMu
yang membawa do’a sampai ujung subuh
dan membuatku terus terjaga
menangis dan bersenandung
seperti kaki langit yang rindu
kesengsem pada fajar

Qasidah Larut Malam (3)

mimpi adalah masa lalu
tempat menuju bilik
yang asyik membincang sorga

"siapa yang sampai lebih dulu, kabari aku.."

sebab aku tak percaya lagi
pada kedua mata yang selalu melotot namun buta

Ngawi, 2011

Sumber: Yuk, Nulis Puisi (2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Qasidah Larut Malam" karya Tjahjono Widarmanto merupakan rangkaian refleksi spiritual yang ditulis dalam suasana malam, kesunyian, dan kegelisahan batin. Terdiri atas tiga bagian, puisi ini bergerak dari wirid yang tak kunjung usai, tangisan kerinduan kepada Yang Ilahi, hingga sikap kritis terhadap penglihatan manusia yang merasa tahu segalanya namun justru kehilangan makna. Puisi ini menggabungkan nuansa religius, lirisisme, dan perenungan eksistensial secara puitis dan subtil.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian spiritual dan kerinduan transendental manusia kepada Tuhan. Selain itu, puisi ini juga memuat tema kelelahan batin, kegelisahan iman, serta keterbatasan manusia dalam memahami kebenaran dan makna hidup. Ketiga bagian puisi saling terkait sebagai perjalanan batin yang berlangsung di ruang sunyi bernama malam.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menjalani malam dalam wirid, doa, tangis, dan renungan. Pada bagian pertama, tokoh aku digambarkan berada dalam ibadah yang terasa panjang dan melelahkan, sambil menunggu secercah cahaya petunjuk. Pada bagian kedua, cerita berlanjut pada luapan air mata dan kerinduan mendalam kepada Tuhan, yang diibaratkan sebagai cinta penyembuh luka batin. Bagian ketiga membawa pembaca pada perenungan tentang mimpi, masa lalu, dan ketidakpercayaan terhadap mata manusia yang melihat tetapi tidak memahami.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual tidak selalu terang dan menenangkan, tetapi sering kali penuh kegelisahan, air mata, dan ketidakpastian. Permohonan akan “seberkas cahaya” menyiratkan kerendahan hati manusia yang tidak menuntut pencerahan besar, melainkan sekadar tanda kehadiran Tuhan. Sementara itu, kritik terhadap “mata yang selalu melotot namun buta” menyiratkan sindiran terhadap manusia yang merasa paling benar, tetapi kehilangan kepekaan rohani.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa hening, khusyuk, melankolis, dan kontemplatif. Larut malam menjadi latar batin yang memperkuat kesan sepi, dingin, dan reflektif. Di saat yang sama, suasana ini juga mengandung harap, terutama melalui penantian akan cahaya dan fajar sebagai simbol pencerahan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk tetap rendah hati dalam beriman dan tidak tergesa-gesa mengklaim kebenaran. Puisi ini juga mengingatkan bahwa pencarian spiritual adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kejujuran batin, dan kesiapsiagaan untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam kesunyian, bukan hanya dalam simbol-simbol lahiriah.

Puisi "Qasidah Larut Malam" adalah puisi religius yang tidak dogmatis, melainkan reflektif dan personal. Tjahjono Widarmanto menghadirkan spiritualitas sebagai pengalaman batin yang rapuh, penuh tanya, dan senantiasa mencari cahaya. Puisi ini mengajak pembaca untuk berdiam sejenak, mendengarkan kesunyian, dan menyadari bahwa iman sering tumbuh justru dalam larut malam yang paling gelap.

Tjahjono Widarmanto
Puisi: Qasidah Larut Malam
Karya: Tjahjono Widarmanto

Biodata Tjahjono Widarmanto:
  • Tjahjono Widarmanto lahir pada tanggal 18 April 1969 di Ngawi, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.