Ngawi, 2011
Sumber: Yuk, Nulis Puisi (2018)
Analisis Puisi:
Puisi "Qasidah Larut Malam" karya Tjahjono Widarmanto merupakan rangkaian refleksi spiritual yang ditulis dalam suasana malam, kesunyian, dan kegelisahan batin. Terdiri atas tiga bagian, puisi ini bergerak dari wirid yang tak kunjung usai, tangisan kerinduan kepada Yang Ilahi, hingga sikap kritis terhadap penglihatan manusia yang merasa tahu segalanya namun justru kehilangan makna. Puisi ini menggabungkan nuansa religius, lirisisme, dan perenungan eksistensial secara puitis dan subtil.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian spiritual dan kerinduan transendental manusia kepada Tuhan. Selain itu, puisi ini juga memuat tema kelelahan batin, kegelisahan iman, serta keterbatasan manusia dalam memahami kebenaran dan makna hidup. Ketiga bagian puisi saling terkait sebagai perjalanan batin yang berlangsung di ruang sunyi bernama malam.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menjalani malam dalam wirid, doa, tangis, dan renungan. Pada bagian pertama, tokoh aku digambarkan berada dalam ibadah yang terasa panjang dan melelahkan, sambil menunggu secercah cahaya petunjuk. Pada bagian kedua, cerita berlanjut pada luapan air mata dan kerinduan mendalam kepada Tuhan, yang diibaratkan sebagai cinta penyembuh luka batin. Bagian ketiga membawa pembaca pada perenungan tentang mimpi, masa lalu, dan ketidakpercayaan terhadap mata manusia yang melihat tetapi tidak memahami.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual tidak selalu terang dan menenangkan, tetapi sering kali penuh kegelisahan, air mata, dan ketidakpastian. Permohonan akan “seberkas cahaya” menyiratkan kerendahan hati manusia yang tidak menuntut pencerahan besar, melainkan sekadar tanda kehadiran Tuhan. Sementara itu, kritik terhadap “mata yang selalu melotot namun buta” menyiratkan sindiran terhadap manusia yang merasa paling benar, tetapi kehilangan kepekaan rohani.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa hening, khusyuk, melankolis, dan kontemplatif. Larut malam menjadi latar batin yang memperkuat kesan sepi, dingin, dan reflektif. Di saat yang sama, suasana ini juga mengandung harap, terutama melalui penantian akan cahaya dan fajar sebagai simbol pencerahan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk tetap rendah hati dalam beriman dan tidak tergesa-gesa mengklaim kebenaran. Puisi ini juga mengingatkan bahwa pencarian spiritual adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kejujuran batin, dan kesiapsiagaan untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam kesunyian, bukan hanya dalam simbol-simbol lahiriah.
Puisi "Qasidah Larut Malam" adalah puisi religius yang tidak dogmatis, melainkan reflektif dan personal. Tjahjono Widarmanto menghadirkan spiritualitas sebagai pengalaman batin yang rapuh, penuh tanya, dan senantiasa mencari cahaya. Puisi ini mengajak pembaca untuk berdiam sejenak, mendengarkan kesunyian, dan menyadari bahwa iman sering tumbuh justru dalam larut malam yang paling gelap.
