Analisis Puisi:
Puisi "Rahasia" karya Gunoto Saparie adalah karya yang singkat namun sarat dengan makna, merinci ketidakpastian dan keceriaan yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dengan gaya bahasa yang sederhana, penulis mampu merangkai kata-kata untuk menyampaikan pesan yang menyentuh.
Ketidakpastian Waktu: Puisi dimulai dengan pernyataan tentang ketidakpastian waktu. Penulis menggunakan kata-kata "barangkali" untuk menyiratkan ketidakjelasan kapan suatu peristiwa akan terjadi. Ini menciptakan nuansa misterius dan memunculkan rasa penasaran.
Misteri Seringai: Penulis menyampaikan bahwa tidak seorang pun tahu kapan seseorang akan menemuinya dengan "seringai itu-itu juga." Kata "seringai" di sini memberikan nuansa keceriaan dan keakraban, sementara "itu-itu juga" menekankan keunikannya.
Pertimbangan Hari: Penulis menambahkan nuansa harian dengan menyebutkan kemungkinan hari, yaitu "barangkali sabtu atau minggu ya." Ini memberikan kesan santai dan menggambarkan suasana akhir pekan yang menyenangkan.
Ketidakpastian dalam Hidup: Puisi mencerminkan realitas ketidakpastian yang melekat dalam kehidupan. Penulis menggunakan kata "barangkali" untuk menekankan bahwa banyak hal tidak dapat diprediksi atau dijadwalkan dengan pasti.
Kejutan yang Menyenangkan: "Seringai itu-itu juga" memberikan kesan bahwa ketika pertemuan itu akhirnya terjadi, akan ada kejutan yang menyenangkan. "Seringai" menciptakan gambaran ekspresi wajah yang ceria dan ramah.
Atmosfer Santai Akhir Pekan: Dengan menyebutkan "sabtu atau minggu," puisi mengeksplorasi atmosfer santai dan riang yang seringkali terkait dengan akhir pekan. Ini menciptakan gambaran suasana yang nyaman dan menyenangkan.
Puisi "Rahasia" karya Gunoto Saparie adalah karya yang menggambarkan ketidakpastian dalam kehidupan dan kejutan-kejutan menyenangkan yang dapat terjadi. Dengan kata-kata yang sederhana, penulis berhasil menyampaikan pesan yang menyentuh dan membangun ekspektasi tentang momen-momen yang misterius namun ceria. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang keindahan dalam setiap momen tak terduga dalam hidup.
Karya: Gunoto Saparie
Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.
Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).
Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
