Analisis Puisi:
Puisi "Rindu Dendam" karya Gunoto Saparie merupakan puisi pendek dengan kepadatan makna yang kuat. Meski hanya terdiri atas empat larik, puisi ini menyimpan intensitas emosi yang dalam dan gelap. Penyair memanfaatkan diksi yang padat, metaforis, dan sugestif untuk menggambarkan pergulatan batin yang terpendam, terutama antara rindu dan dendam yang saling bertaut.
Kesederhanaan bentuk puisi ini justru menjadi kekuatannya, karena setiap kata bekerja sebagai penanda emosi dan suasana batin yang kompleks.
Tema
Tema utama puisi ini adalah konflik batin yang lahir dari perasaan rindu yang bercampur dendam. Puisi ini menyoroti ketegangan emosional yang tidak tersalurkan, ketika perasaan cinta, kehilangan, atau kerinduan berubah menjadi luka dan amarah yang terpendam.
Tema kesunyian dan keterasingan juga terasa kuat, ditandai oleh latar alam yang sepi dan beku.
Puisi ini bercerita tentang sebuah pengalaman batin seseorang yang berada dalam kesunyian, di “padang ilalang” yang sunyi. Dalam ruang sepi itu, rindu dan dendam hadir bersamaan, meradang di dalam diri, namun tidak terucap. Perasaan tersebut terjebak di dalam kalbu yang kaku dan menegang, sehingga tidak menemukan jalan keluar.
Puisi ini tidak menghadirkan peristiwa konkret, melainkan menampilkan suasana batin yang terpusat pada emosi.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah gambaran tentang bahaya emosi yang dipendam terlalu lama. Rindu yang tidak tersampaikan dapat berubah menjadi dendam, dan dendam yang tidak diungkapkan justru membisu di dalam hati. Kebisuan batin ini menciptakan tekanan psikologis yang terus “mengejang” atau mengeras.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa ketidakmampuan mengungkapkan perasaan dapat membuat manusia terjebak dalam kesunyian batin yang menyakitkan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, muram, dan menekan. Kata-kata seperti “sunyi menggenang”, “meradang”, dan “mengejang” membangun atmosfer batin yang gelap, tertahan, dan penuh ketegangan emosional. Tidak ada pelepasan emosi, hanya akumulasi perasaan yang terperangkap.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini dapat dimaknai menyampaikan amanat agar manusia tidak membiarkan perasaan negatif mengendap tanpa penyaluran. Rindu dan dendam yang tidak disadari serta tidak diolah dengan baik berpotensi melukai diri sendiri. Kejujuran emosional dan keberanian menghadapi perasaan menjadi penting agar batin tidak membatu.
Puisi "Rindu Dendam" karya Gunoto Saparie membuktikan bahwa puisi pendek dapat memuat makna yang luas dan dalam. Dengan bahasa yang padat dan simbolik, penyair menghadirkan potret batin manusia yang terjebak dalam rindu, dendam, dan kebisuan emosional. Puisi ini mengajak pembaca merenungi pentingnya mengenali dan mengolah perasaan agar kesunyian tidak berubah menjadi luka yang membeku di dalam kalbu.
Karya: Gunoto Saparie
Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.
Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).
Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
