Ronggeng Selendang Hijau Pupus Pisang
untuk Kang Ahmad Tohari
Pelajaran pertama segera berakartunjang.
Karang menjulang diusap angin saban hari
Mungkin meja perjamuan.
Tumbuhlah dalam pikiran,
Pohon bertugas menghantar buah kelangenan,
Lalu ketakutan menyirami
Dari arah yang tak bisa dipahami.
Tak patut, di kerajaan laut ini
Berhasrat selendang hijau pupus pisang.
Selepas panen, kutemukan diriku
Masih seorang perawan.
Selepas panen, kutemukan diriku
Masih seorang perawan.
Lewat lorong para raja pula,
Kusaksikan, para siluman,
Seperti celana berserakan,
Bebas berkata-kata,
Minum dan
Membanting gelas kehidupan.
Lalu seekor anjing jantan
Menjilati kemaluan betinanya.
Aku pun tetap seorang rewang!
Tarianku masih bergetaran bunga merahkuning
Pinggir jalan.
1996
Sumber: Horison (September, 2000)
Analisis Puisi:
Puisi “Ronggeng Selendang Hijau Pupus Pisang” memperlihatkan kerja bahasa yang liar, simbolik, dan penuh tegangan antara tradisi, tubuh, dan kuasa. Badruddin Emce menghadirkan suara liris yang bergerak dari dunia agraris, mitologis, hingga realitas sosial yang keras. Puisi ini terasa beresonansi dengan semesta tematik yang akrab bagi Kang Ahmad Tohari—khususnya dunia ronggeng, desa, dan benturan moral—namun disajikan dengan gaya yang lebih surealis dan fragmentaris.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kegamangan identitas perempuan dalam pusaran tradisi, kuasa, dan hasrat. Puisi ini juga memuat tema tentang kemurnian, ketakutan, serta posisi perempuan kelas bawah yang terus bekerja dan menari di tengah dunia yang paradoksal.
Puisi ini bercerita tentang seseorang—berasosiasi dengan figur ronggeng—yang melewati pelajaran hidup, panen, lorong kekuasaan, hingga peristiwa-peristiwa ganjil dan mengganggu. Meski berada di tengah situasi yang liar dan tak tertata, tokoh "aku" berulang kali menegaskan posisinya: “masih seorang perawan” dan “tetap seorang rewang”. Penegasan ini menunjukkan pergulatan antara citra, tubuh, dan martabat.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap sistem sosial yang mengeksploitasi tubuh dan kerja perempuan, sembari memaksakan simbol-simbol kesucian dan moralitas. Selendang hijau pupus pisang menjadi lambang hasrat yang ditekan dan sekaligus dilarang dalam “kerajaan laut”—sebuah metafora bagi ruang kekuasaan yang tidak ramah bagi suara perempuan.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana gelisah, grotesk, dan ironis. Keindahan alam dan hasil panen berdampingan dengan pemandangan yang kasar dan mengganggu, menciptakan atmosfer ketidaknyamanan yang disengaja untuk mengguncang pembaca.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat tentang keteguhan identitas di tengah kekacauan moral dan sosial. Ia menegaskan bahwa martabat tidak selalu ditentukan oleh penilaian luar, melainkan oleh kesadaran diri dan keberanian untuk tetap berdiri, bekerja, dan “menari” di pinggir jalan kehidupan.
Puisi “Ronggeng Selendang Hijau Pupus Pisang” karya Badruddin Emce adalah teks yang berani dan menantang. Ia tidak menawarkan kenyamanan, melainkan undangan untuk membaca ulang relasi antara tubuh, tradisi, dan kuasa. Dalam konteks penghormatan untuk Kang Ahmad Tohari, puisi ini terasa seperti dialog lintas estetika: satu berangkat dari akar desa yang lirih, satu lagi dari kegelisahan simbolik yang tajam—keduanya sama-sama memotret luka dan keteguhan manusia pinggiran.
Puisi: Ronggeng Selendang Hijau Pupus Pisang
Karya: Badruddin Emce
Biodata Badruddin Emce:
- Badruddin Emce lahir di Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juli 1962.