Sambutlah Daku, Kutunggu Dikau
Sambutlah daku, kutunggu dikau.
Tepekur daku tenang menanti. Asyik
menjalin tali-temali. Melangit doaku
menjangkau kakimu terjuntai.
Sambutlah daku. Atau aku kan melambung
kutembus semesta. Meninggi.
Entah kemana. Menujumu: janji kita!
Sambutlah daku, kutunggu dikau.
Kutunggu dikau, renggutkan daku
dari nestapa
dunia.
1969
Sumber: Horison (September, 1972)
Analisis Puisi:
Puisi "Sambutlah Daku, Kutunggu Dikau" karya Budiman S. Hartoyo merupakan puisi liris yang sarat dengan nuansa penantian, kepasrahan, dan harapan akan pertemuan. Melalui diksi yang puitis dan berulang, penyair menghadirkan suara batin seseorang yang menunggu dengan penuh keyakinan, seolah penantian itu sendiri telah menjadi bentuk doa.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penantian dan harapan menuju pertemuan yang dijanjikan. Penantian tersebut tidak sekadar bersifat fisik, melainkan juga spiritual dan emosional.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menunggu kehadiran sosok yang dirindukan, dengan penuh ketenangan namun juga kerinduan mendalam. Ia menunggu sambil berdoa, berharap disambut dan dilepaskan dari nestapa dunia. Penantian tersebut digambarkan sebagai perjalanan batin yang mengarah pada janji pertemuan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa penantian bukanlah sikap pasif, melainkan proses aktif yang dipenuhi doa, keyakinan, dan kesiapan batin. Sosok “dikau” dapat dimaknai sebagai kekasih, harapan hidup, atau bahkan simbol transendental seperti Tuhan atau tujuan spiritual yang diyakini akan memberi kelegaan dari penderitaan dunia.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa hening, khusyuk, dan penuh pengharapan. Ada ketenangan dalam menunggu, namun juga terselip kegelisahan halus yang tercermin dari keinginan untuk “direnggut dari nestapa dunia”.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kesabaran dan keyakinan dalam menunggu adalah bentuk kekuatan batin. Dalam penantian, manusia belajar berserah, berdoa, dan percaya pada janji yang diyakini akan terwujud pada waktunya.
Puisi "Sambutlah Daku, Kutunggu Dikau" karya Budiman S. Hartoyo menghadirkan potret penantian yang tenang namun mendalam. Puisi ini mengajak pembaca merenungi makna menunggu sebagai laku batin—sebuah perjalanan penuh harap untuk keluar dari nestapa dunia menuju janji yang diyakini memberi kelegaan.
