Puisi: Sangatlah Sayang Tanah Air (Karya Jang Sukmanbrata)

Puisi “Sangatlah Sayang Tanah Air” bercerita tentang perjalanan batin penyair dalam memandang negeri tropika: musim mangga, pancaroba, kampung, ...

Sangatlah Sayang Tanah Air


Sangatlah megah musim mangga
di pancaroba negeri tropika,
panas - sejuk - hangat saling mendekap,
hamil dalam keagungan senyuman Tuhan:
"Nikmat manakah bisa kau sembunyikan?"
Daunnya telinga serangga,
kakinya sayap burung kakak tua,
jendela bambunya gerbang sukacita seniman angklung - arumba,
Dunia salahsatu impian utama,
helaran para pemusik taman kota
haus pujian, tepuk tangan atas kepala,
dan penyair layar maya mengencani kemerdekaan yang dipenjarakan raja-raja gay baheula yang tak puas mengawini ibu kandungnya sendiri.
Syair-syair beterbangan searah lintasan burung migran
Musnah meninggalkan limbah sejarah,
pernah sia-sia lalu kembali berjaya
Adapun harapan semu tuan Gates bebaskan digital - suntikan dana sosial cipratan milyaran mesin hoax bagi korban keadaan
Tapi itu bayangan
di warga negeri lepasan Belanda,
kampung babakan enol tujuh belas, menolak keras celaka dua belas
Mampirlah ke lembah Anai,
air terjun akan menghiburmu
sepanjang betah istirah,
larutkan - hapuskan lara sengsara.
Hidup itu tanaman,
bunyi tifa terindah dari hutan larangan,
sangatlah damai di pejaman mata.

Sangatlah sayang pepaya baru matang, disambar lelawa,
tak tahu belajar pertama melayani manusia dan burung kepodang
Keduanya belajar mengenal kematian
di kunyahan orang
Ketiganya mengajarkan meninggalkan kemanisan
Yang muda biarlah jadi teman di sayur asam
-- Ambung, lalu kecuplah daku di pusaran udara fana!

sangatlah riskan berlayar malam tanpa arahan bintang
Setali tiga uang,
hiburan profan melenakan,
dangdut dibiarkan sebebas bebasnya,
abaikan moyang yang susah payah bangun peradaban
Lompat dari kepingan kepalsuan
- menyusun seni keluhuran;
"Jangan bilang aku berjasa, itu tiketku dari wali jawara semua peperangan,
jago hinakan amarah
Sejarah dunia merah putih hitam kuning dimulai darinya, salamlah sayang!

sangatlah indah air mata senjakala,
buliran jingga
surya jatuh kasmaran ke pejuang yang merangkak di gelap,
"kau bagian dari cahaya"
Kilauan di terang jiwa
sangatlah damba

Pasir Kihiyang, 1 Oktober 2022

Analisis Puisi:

Puisi “Sangatlah Sayang Tanah Air” merupakan puisi panjang yang memadukan lirisme alam, kritik sosial, sejarah, dan permenungan kebudayaan. Jang Sukmanbrata tidak menyajikan nasionalisme dalam bentuk slogan, melainkan melalui lanskap tropika, ingatan kolektif, ironi modernitas, serta kegelisahan atas arah peradaban. Tanah air hadir sebagai tubuh hidup yang dicintai, dirawat, tetapi juga dilukai oleh kelalaian manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta tanah air yang reflektif dan kritis. Cinta tersebut tidak berhenti pada kekaguman terhadap keindahan alam, tetapi berkembang menjadi kesadaran historis, kebudayaan, dan tanggung jawab moral terhadap warisan leluhur.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin penyair dalam memandang negeri tropika: musim mangga, pancaroba, kampung, kesenian tradisional, hingga jejak kolonial dan kebingungan zaman digital. Penyair mengajak pembaca berkeliling ruang-ruang Indonesia—alam, desa, sejarah, budaya, hiburan populer—sembari menimbang mana yang dirawat dan mana yang ditinggalkan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa mencintai tanah air bukan sekadar memuji keindahannya, tetapi juga berani mengkritik kerusakan nilai, kelupaan sejarah, dan kemabukan hiburan profan. Puisi ini menyiratkan kegelisahan atas modernitas yang menjauhkan manusia dari akar budaya, serta peringatan agar kemerdekaan tidak berubah menjadi kemerdekaan semu yang kehilangan arah.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi bergerak dinamis: dari khidmat dan syahdu saat menggambarkan alam dan budaya, menjadi getir dan satiris ketika menyinggung sejarah, politik, dan hiburan yang melenakan, lalu kembali lirih dan harap di bagian penutup. Perubahan suasana ini mencerminkan kompleksitas rasa cinta terhadap tanah air.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan amanat agar manusia Indonesia menjaga keseimbangan antara kemajuan dan keluhuran budaya. Cinta tanah air menuntut kesadaran sejarah, penghormatan pada alam, serta keberanian menyaring pengaruh luar agar tidak kehilangan jati diri.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji, antara lain:
  • Imaji visual: musim mangga, air terjun Lembah Anai, buliran jingga senjakala, burung migran, kampung.
  • Imaji auditif: bunyi angklung, arumba, tifa dari hutan larangan, helaran pemusik taman kota.
  • Imaji rasa dan perabaan: kemanisan pepaya, kelelahan pejuang, damai di pejaman mata.
Imaji-imaji ini menghidupkan tanah air sebagai ruang pengalaman inderawi sekaligus batin.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi, seperti musim yang “megah”, surya yang “jatuh kasmaran”, dan air terjun yang “menghiburmu”.
  • Metafora, misalnya “hidup itu tanaman” dan “kemerdekaan yang dipenjarakan”.
  • Alusi, pada sejarah kolonial, tokoh global, dan jejak leluhur.
  • Ironi dan satire, ketika membahas hiburan profan, hoaks, dan kemerdekaan yang semu.
  • Repetisi, pada frasa “sangatlah” yang menegaskan rasa cinta sekaligus keprihatinan.
Puisi “Sangatlah Sayang Tanah Air” adalah puisi yang memaknai nasionalisme secara dewasa dan mendalam. Jang Sukmanbrata menempatkan tanah air bukan sebagai objek pujaan kosong, melainkan sebagai ruang hidup yang menuntut kesetiaan, kesadaran, dan tanggung jawab. Puisi ini mengajak pembaca mencintai negeri dengan mata terbuka—menikmati keindahannya, merawat budayanya, dan berani mengoreksi arah jalannya.

Puisi Jang Sukmanbrata
Puisi: Sangatlah Sayang Tanah Air
Karya: Jang Sukmanbrata

Biodata Jang Sukmanbrata:
Jang Sukmanbrata lahir pada tanggal 17 Agustus 1964 di Bandung. Ia menulis karya sastra dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam berbagai genre mulai dari puisi, guguritan, lirik, balada, epik, naratif, tanka, haiku, dan bahkan esai.

Puisi-puisinya terangkum di berbagai Buku Antologi Puisi, seperti Penyair Bandung (1981), Negeri Pesisiran (2019), Negeri Rantau (2020), Raja Kelana (2022) dan beberapa lainnya.

Karya sastranya yang lain bisa dijumpai dan tersebar di berbagai Media Online dan Media Offline, seperti di Majalah Basis, koran Bali Pos, Pikiran Rakyat Bandung, dan lain sebagainya.

Jang Sukmanbrata saat ini aktif mengadvokasi - melestarikan nilai-nilai Kabuyutan Sunda-Nusantara.
© Sepenuhnya. All rights reserved.