Analisis Puisi:
Puisi "Sanglot" menampilkan renungan lirih tentang kesedihan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Alih-alih diperlakukan sebagai sesuatu yang harus sepenuhnya dihindari, kesedihan dalam puisi ini hadir sebagai pengalaman yang melekat, tumbuh, dan bahkan ikut membentuk keberlangsungan hidup. Dengan bahasa metaforis yang tenang, Beni R. Budiman mengajak pembaca memandang kesedihan dari sudut pandang yang lebih menerima.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesedihan sebagai kenyataan hidup yang melekat pada keberadaan manusia. Puisi ini juga menyentuh tema penerimaan, kefanaan, dan relasi antara penderitaan dan kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang kesedihan yang diibaratkan sebagai “biji benalu” yang hinggap dan tumbuh bersama kehidupan. Kesedihan tidak datang sebagai harapan, melainkan sebagai sesuatu yang menumpang dan menetap. Penyair menggambarkan bagaimana kesedihan hadir di mana saja, tidak memilih tempat, dan berjalan bebas seperti kematian—sebuah kenyataan yang tak terelakkan dalam hidup manusia.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kesedihan bukan sekadar beban negatif, melainkan bagian dari proses menjadi manusia. Dengan mengakui dan mencintai kenyataan tersebut, manusia justru belajar bertahan dan memahami kehidupan secara lebih utuh. Kesedihan digambarkan sebagai “mainan” yang kadang menakutkan dan membosankan, namun tetap menyertai perjalanan hidup.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana kontemplatif dan melankolis, namun tidak meledak-ledak. Ada ketenangan yang pahit, seolah penyair berdamai dengan kenyataan bahwa kesedihan selalu hadir dalam lingkaran hidup.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menerima kesedihan sebagai bagian alami dari kehidupan, bukan sebagai musuh yang harus selalu dilawan. Dengan penerimaan tersebut, manusia dapat bertahan dan terus menemukan “gairah hidup yang baru”.
Puisi "Sanglot" karya Beni R. Budiman menghadirkan pandangan yang dewasa tentang kesedihan: bukan sebagai lawan, melainkan sebagai kenyataan yang ikut menumbuhkan manusia. Dengan bahasa alam yang sederhana dan reflektif, puisi ini mengajak pembaca untuk berdamai dengan luka, karena di sanalah kehidupan terus menemukan cara untuk bertahan.