Puisi: Sanglot (Karya Beni R. Budiman)

Puisi "Sanglot" karya Beni R. Budiman bercerita tentang kesedihan yang diibaratkan sebagai “biji benalu” yang hinggap dan tumbuh bersama kehidupan.
Sanglot

Kesedihan bagaimanapun bukan harapan
Tapi biji benalu yang hinggap bersama
Burung. Dan matahari, angin, dan hujan
Mengirim gairah hidup yang baru bertahan

Dan paruh burung tak pernah mampu menolak
Makanan. Seperti juga kesedihan tak memilih
Tempat berteduh. Semua daerah baginya indah
Dan sebagai pohonan kita pun ibarat limban

Bagi segala kesedihan berjalan. Seperti kematian
Kesedihan menjelma kenyataan yang kita cintai
Mainan yang seringkali membuat takut dan bosan

1997

Sumber: Horison (Februari, 2000)

Analisis Puisi:

Puisi "Sanglot" menampilkan renungan lirih tentang kesedihan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Alih-alih diperlakukan sebagai sesuatu yang harus sepenuhnya dihindari, kesedihan dalam puisi ini hadir sebagai pengalaman yang melekat, tumbuh, dan bahkan ikut membentuk keberlangsungan hidup. Dengan bahasa metaforis yang tenang, Beni R. Budiman mengajak pembaca memandang kesedihan dari sudut pandang yang lebih menerima.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesedihan sebagai kenyataan hidup yang melekat pada keberadaan manusia. Puisi ini juga menyentuh tema penerimaan, kefanaan, dan relasi antara penderitaan dan kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang kesedihan yang diibaratkan sebagai “biji benalu” yang hinggap dan tumbuh bersama kehidupan. Kesedihan tidak datang sebagai harapan, melainkan sebagai sesuatu yang menumpang dan menetap. Penyair menggambarkan bagaimana kesedihan hadir di mana saja, tidak memilih tempat, dan berjalan bebas seperti kematian—sebuah kenyataan yang tak terelakkan dalam hidup manusia.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kesedihan bukan sekadar beban negatif, melainkan bagian dari proses menjadi manusia. Dengan mengakui dan mencintai kenyataan tersebut, manusia justru belajar bertahan dan memahami kehidupan secara lebih utuh. Kesedihan digambarkan sebagai “mainan” yang kadang menakutkan dan membosankan, namun tetap menyertai perjalanan hidup.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana kontemplatif dan melankolis, namun tidak meledak-ledak. Ada ketenangan yang pahit, seolah penyair berdamai dengan kenyataan bahwa kesedihan selalu hadir dalam lingkaran hidup.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menerima kesedihan sebagai bagian alami dari kehidupan, bukan sebagai musuh yang harus selalu dilawan. Dengan penerimaan tersebut, manusia dapat bertahan dan terus menemukan “gairah hidup yang baru”.

Puisi "Sanglot" karya Beni R. Budiman menghadirkan pandangan yang dewasa tentang kesedihan: bukan sebagai lawan, melainkan sebagai kenyataan yang ikut menumbuhkan manusia. Dengan bahasa alam yang sederhana dan reflektif, puisi ini mengajak pembaca untuk berdamai dengan luka, karena di sanalah kehidupan terus menemukan cara untuk bertahan.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Sanglot
Karya: Beni R. Budiman

Biodata Beni R. Budiman:
  • Beni R. Budiman lahir di desa Dawuan, Kadipaten, Majalengka, pada tanggal 10 September 1965.
  • Beni R. Budiman meninggal dunia di Bandung pada tanggal 3 Desember 2002.
© Sepenuhnya. All rights reserved.