Analisis Puisi:
Puisi “Sebelum Pesawat Mendarat” karya Hasan Aspahani menghadirkan potret pengalaman modern yang akrab dengan kehidupan manusia kontemporer: perjalanan udara. Namun, di balik situasi yang tampak teknis dan rutin, penyair justru menyelipkan perenungan tentang kecemasan, perjumpaan, dan keterbatasan manusia dalam mengatur waktu serta perasaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penantian dan kecemasan manusia menjelang pertemuan dan kepulangan. Tema lain yang menguat adalah ketidakpastian hidup serta upaya manusia menenangkan diri di tengah situasi yang tak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok “kita”—penumpang pesawat—yang sedang berada dalam fase menjelang pendaratan. Mereka mendengarkan pengumuman rutin dari awak pesawat mengenai ketinggian, cuaca, jarak pandang, hingga sabuk pengaman. Di saat yang sama, “kita” juga menenangkan kecemasan yang sama-sama rutin: membayangkan sapaan di ruang kedatangan, pelukan yang rapuh, salat yang terlambat, dan kepastian tiket kepulangan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa di balik keteraturan sistem modern, manusia tetap diliputi kecemasan personal dan emosional. Informasi teknis pesawat menjadi simbol upaya manusia menciptakan rasa aman, sementara kegelisahan tentang pertemuan, ibadah, dan kepulangan menandakan bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya bisa dijadwalkan dengan presisi seperti penerbangan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini tenang namun sarat kegelisahan halus. Tidak ada kepanikan, tetapi ada ketegangan batin yang lembut, seolah pembaca diajak merasakan detik-detik sunyi sebelum roda pesawat menyentuh landasan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah kesadaran untuk menerima keterbatasan manusia dalam mengendalikan waktu dan keadaan, serta pentingnya memahami bahwa kecemasan adalah bagian dari perjalanan hidup. Penyair seakan mengingatkan bahwa perjumpaan, ibadah, dan kepulangan selalu mengandung ketidakpastian yang harus diterima dengan lapang.
Puisi “Sebelum Pesawat Mendarat” merupakan puisi yang sederhana namun reflektif. Hasan Aspahani berhasil mengubah momen teknis menjelang pendaratan menjadi ruang kontemplasi tentang kecemasan, harapan, dan perjumpaan. Puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa sebelum “mendarat” dalam berbagai fase kehidupan, manusia selalu membawa kegelisahan yang sama—namun juga harapan untuk tiba dengan selamat.