Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Sebuah Lagu (Karya P. Sengodjo)

Puisi "Sebuah Lagu" karya P. Sengodjo bercerita tentang reaksi emosional tokoh aku ketika sebuah lagu kembali terdengar. Kemunculan lagu tersebut ...
Sebuah Lagu

lagu itu lagi!?
lagu itu lagi!
ah, mengapa lagu itu lagi?!

tak kuat aku, tak kuat aku
pergi, pergi! - 

lagu itu lagi -
hm, hanya lagu paduan bunyi dan laras
hanya lagu itu lagi! -

24 April 1947

Sumber: Panca Raya (Juli, 1947)

Analisis Puisi:

Puisi "Sebuah Lagu" karya P. Sengodjo merupakan puisi pendek dengan ungkapan emosional yang kuat. Melalui larik-larik singkat, repetitif, dan penuh tanda seru, penyair menghadirkan pengalaman batin seseorang yang terganggu oleh sebuah lagu. Namun, “lagu” dalam puisi ini tidak semata-mata dapat dimaknai secara harfiah, melainkan membuka ruang tafsir yang lebih luas tentang ingatan, kejenuhan, dan tekanan psikologis.

Tema

Tema puisi ini adalah kejenuhan batin dan gangguan emosional akibat sesuatu yang terus berulang. Lagu menjadi simbol dari pengalaman, kenangan, atau suara tertentu yang tidak diinginkan namun terus hadir dan mengusik kesadaran tokoh aku.

Puisi ini bercerita tentang reaksi emosional tokoh aku ketika sebuah lagu kembali terdengar. Kemunculan lagu tersebut memicu penolakan keras, kejengkelan, bahkan kelelahan batin. Tokoh aku berusaha mengusir lagu itu, tetapi pada akhirnya hanya mampu menyimpulkan bahwa lagu tersebut hanyalah “paduan bunyi dan laras”, meskipun tetap mengganggu.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat dibaca sebagai gambaran pergulatan batin seseorang terhadap kenangan atau pikiran tertentu yang terus berulang dan sulit dihindari. Lagu melambangkan ingatan yang melekat, trauma kecil, atau situasi hidup yang terus berputar tanpa perubahan. Penolakan tokoh aku justru menegaskan ketidakberdayaannya menghadapi pengulangan tersebut.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana gelisah, jengkel, dan tertekan. Tanda seru yang berulang serta kalimat-kalimat pendek menciptakan ritme cepat dan terputus-putus, seolah mencerminkan napas yang tidak stabil dan pikiran yang kacau.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa manusia kerap berhadapan dengan hal-hal yang tidak disukai namun sulit dihindari, terutama yang berkaitan dengan ingatan dan batin. Puisi ini mengingatkan bahwa penolakan emosional tidak selalu mampu menghapus sesuatu, karena terkadang yang mengganggu itu hanya “lagu”, tetapi efeknya sangat nyata.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Repetisi, pada pengulangan frasa “lagu itu lagi”, yang menegaskan kejengkelan dan tekanan batin.
  • Retorika, melalui pertanyaan “mengapa lagu itu lagi?!”, yang tidak menuntut jawaban, melainkan meluapkan emosi.
  • Ironi, pada penutup puisi ketika lagu yang sangat mengganggu itu akhirnya disebut “hanya lagu paduan bunyi dan laras”, namun tetap terasa tidak sesederhana itu.
Puisi "Sebuah Lagu" karya P. Sengodjo menunjukkan bahwa kekuatan puisi tidak selalu terletak pada panjang atau kerumitan bahasa, melainkan pada ketepatan emosi dan ritme. Dengan ungkapan yang singkat dan berulang, penyair berhasil menghadirkan potret kegelisahan batin yang dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari.

Puisi: Sebuah Lagu
Puisi: Sebuah Lagu
Karya: P. Sengodjo

Biodata P. Sengodjo:
  • P. Sengodjo (nama sebenarnya adalah Suripman) lahir di Desa Gatak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada tanggal 25 November 1926.
  • Dalam dunia sastra, Suripman suka menggunakan nama samaran. Kalau menulis puisi atau sajak, ia menggunakan nama kakeknya, yaitu Prawiro Sengodjo (kemudian disingkat menjadi P. Sengodjo). Kalau menulis esai atau prosa, ia menggunakan nama aslinya, yaitu Suripman. Kalau menulis cerpen, ia juga sering menggunakan nama aslinya Suripman, tapi kadang-kadang menggunakan nama samaran Sengkuni (nama tokoh pewayangan).
© Sepenuhnya. All rights reserved.