Sebuah Potret Dunia Ketiga
Benar. Pemandangan di sini cukup mendebarkan
yang dulu menenangkan pikiran dan perasaan,
kini memusingkan kepala; bagai ulah
perempuan telanjang, menjemur diri di pantai. Kakinya
yang indah, sekali-kali dijilat ombak
di bawah matahari yang berkobar meludahi dunia
teramat tua berputar di atas punggung kerbau.
Haruskah aku mengucap selamat tinggal
pada laut dan garam yang lengket di tubuh mungil itu.
Pada neraka hijau yang berkilauan di teteknya yang gembur
aku temukan jiwaku yang bengkok seperti sekop butut,
tergolek di gudang tua yang pengap, kotor, dan berdebu.
Aku sapa burung-burung yang terbang
mencari pohon kehidupan.
Hutan yang datang hutan yang pergi
berubah warna dan rupa. Sungai bukan lagi
tempatku bercengkrama dengan ikan-ikan. Alirannya,
mengaduh pedih disilet limbah industri;
bagai jerit petani yang melelang dagangannya
dengan harga teramat murah tanpa perhitungan
biaya produksi di tengah-tengah
arus zaman yang suram oleh esok hari.
Matahari terasa dingin dalam kalbuku,
aku menggigil dan beku oleh cuaca tropika
yang sari madunya dihisap habis
perempuan telanjang, berbaring di pantai,
menawarkan pesona dunia pertama. Menggoda
setiap kalbu yang dilimpahi cahaya Muhammad.
Kini dengan alif-Nya
yang merasuki akal sehatku: aku tentang
kehendak hitam perempuan telanjang yang buas
menatap alam hijau. Menelannya pelan-pelan.
O pesona dunia ketiga diam-diam hangus sudah
dibakar nyala api peradaban dunia pertama
yang liar dan bengis.
1987
Sumber: Kita Lahir Sebagai Dongengan (2000)
Analisis Puisi:
Puisi “Sebuah Potret Dunia Ketiga” merupakan sajak kritik yang tajam terhadap relasi kuasa global, kerusakan alam, dan penetrasi peradaban modern yang eksploitatif. Soni Farid Maulana menulis puisi ini dengan bahasa yang provokatif, metaforis, dan penuh kontras, sehingga pembaca diajak melihat “dunia ketiga” bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang penderitaan, ketimpangan, dan perampasan martabat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap imperialisme modern, eksploitasi alam, dan ketimpangan antara dunia pertama dan dunia ketiga. Puisi juga menyentuh tema keterasingan manusia, krisis identitas, dan kehancuran ekologis akibat peradaban yang rakus.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang memandang perubahan lingkungan dan kehidupan sosial di wilayah dunia ketiga. Alam yang dahulu menenangkan kini berubah menjadi ruang penderitaan: laut, hutan, dan sungai tidak lagi bersahabat, melainkan tercemar dan terlukai. Dunia ketiga digambarkan sebagai tubuh yang perlahan dihisap, ditelanjangi, dan dikonsumsi oleh pesona serta kerakusan dunia pertama yang “liar dan bengis”.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kerusakan alam dan penderitaan sosial di dunia ketiga bukanlah proses alami, melainkan akibat langsung dari eksploitasi global. Metafora “perempuan telanjang” menyiratkan objek yang terus-menerus dipamerkan, dieksploitasi, dan direnggut sari madunya. Dunia ketiga kehilangan kedaulatan atas alam, tenaga, dan masa depannya, sementara dunia pertama tampil sebagai pengendali yang menggoda sekaligus menghancurkan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi didominasi rasa getir, muram, marah, dan ironis. Ada kegelisahan batin yang kuat, rasa kehilangan, serta kemarahan terpendam terhadap ketidakadilan zaman. Meski berlatar alam tropis, suasana yang muncul justru dingin, beku, dan suram.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini mengajak pembaca untuk bersikap kritis terhadap narasi kemajuan dan peradaban modern. Puisi menegaskan bahwa kemajuan satu pihak sering dibangun di atas kehancuran pihak lain. Pembaca diajak menyadari pentingnya keadilan ekologis, kemanusiaan, dan kesadaran moral dalam menghadapi arus globalisasi.
Puisi “Sebuah Potret Dunia Ketiga” adalah puisi perlawanan yang keras dan jujur. Soni Farid Maulana menggunakan bahasa puitik yang berani untuk menelanjangi ketimpangan global dan kehancuran ekologis. Puisi ini bukan hanya potret, melainkan juga gugatan moral terhadap peradaban modern yang kerap lupa pada nilai kemanusiaan dan kelestarian alam.
Puisi: Sebuah Potret Dunia Ketiga
Karya: Soni Farid Maulana
Biodata Soni Farid Maulana:
- Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
- Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
