Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Secangkir Kopi (Karya Rhey Fandra Yoga Simbolon)

Puisi “Secangkir Kopi” karya Rhey Fandra Yoga Simbolon bercerita tentang seorang pria yang memesan kopi di sebuah kedai. Ia merasa pesanannya salah ..

Secangkir Kopi

Seorang wanita muda mengantar segelas kopi,
Meletakkan di atas meja seorang pria dengan pena dan agenda lama,
Wanita itu tersenyum lalu mengundang menikmati,
Lalu pria itu melihat, kopi pesanannya salah dan berkata:
“Mengapa Americano? Saya memesan espresso tadi”,
Wanita itu kembali lalu membuka senyum lagi,
Mengundang agar menikmati, lagi dan lagi,
Pria itu meletakkan agenda dan penanya, menuju lobi.
“Mana pesanan saya? Mengapa Americano yang datang?”
Barista itu tersenyum, lalu mengundang menikmati,
Wajah pria itu memerah dan meminta penjelasan dengan lantang,
“Bapak memesan espresso dengan tambahan air, americano itu artinya.” 
Pria itu pun malu dan wajahnya merah padam,
Meminta maaf dan kembali ke meja,
Dan pria itu mengucapkan terimakasih bagi wanita muda dan tersenyum.
Sekarang, ia menulis kesalahannya di agenda, lagi,
Karena ia tak mengerti tentang kopi.

Analisis Puisi:

Puisi “Secangkir Kopi” karya Rhey Fandra Yoga Simbolon menghadirkan peristiwa sederhana di ruang publik—sebuah kedai kopi—sebagai medium refleksi tentang kesalahpahaman, ego, dan kerendahan hati. Dengan bahasa yang lugas dan alur naratif yang jelas, puisi ini menempatkan pengalaman kecil sebagai cermin sikap manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesalahpahaman dan keangkuhan yang lahir dari ketidaktahuan. Di balik peristiwa sepele tentang jenis kopi, puisi ini mengangkat tema ego intelektual, yaitu sikap merasa paling tahu, serta pembelajaran tentang kerendahan hati ketika seseorang menyadari kekeliruannya sendiri.

Puisi ini bercerita tentang seorang pria yang memesan kopi di sebuah kedai. Ia merasa pesanannya salah ketika disuguhi americano, padahal ia memesan espresso. Dengan nada protes, pria itu mempertanyakan pelayanan, baik kepada pelayan wanita maupun barista. Namun akhirnya terungkap bahwa americano memang espresso dengan tambahan air. Menyadari kesalahannya sendiri, pria itu merasa malu, meminta maaf, dan mencatat kesalahan tersebut di agendanya.

Makna tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik halus terhadap sikap merasa paling benar tanpa pemahaman yang cukup. Kopi menjadi simbol pengetahuan atau pengalaman hidup: seseorang bisa berbicara lantang, menuntut penjelasan, bahkan menyalahkan orang lain, padahal akar persoalannya adalah ketidaktahuan diri sendiri. Puisi ini juga menyiratkan bahwa belajar dari kesalahan merupakan bentuk kedewasaan, bukan sesuatu yang memalukan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini bergeser secara bertahap. Pada awalnya, suasana tampak santai dan normal seperti aktivitas di kafe. Namun kemudian berubah menjadi tegang dan canggung ketika pria tersebut melontarkan protes dengan suara lantang. Di bagian akhir, suasana menjadi tenang dan reflektif, ditandai dengan rasa malu, permintaan maaf, dan tindakan mencatat kesalahan sebagai bentuk introspeksi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya rendah hati dan memahami sebelum menghakimi. Puisi ini mengingatkan bahwa kemarahan dan protes sering kali berakar dari ketidaktahuan. Mengakui kesalahan dan belajar darinya justru merupakan sikap yang lebih terhormat daripada mempertahankan ego.

Puisi “Secangkir Kopi” menunjukkan bahwa pengalaman kecil dapat menyimpan pelajaran besar. Melalui peristiwa sederhana di kedai kopi, Rhey Fandra Yoga Simbolon mengajak pembaca untuk bercermin: seberapa sering kita marah, menuntut, atau merasa paling tahu, padahal sesungguhnya kitalah yang belum memahami. Puisi ini menegaskan bahwa kerendahan hati adalah kunci utama dalam belajar dan hidup berdampingan dengan sesama.

Rhey Fandra Yoga Simbolon
Puisi: Secangkir Kopi
Karya: Rhey Fandra Yoga Simbolon

Biodata Rhey Fandra Yoga Simbolon:
  • Rhey Fandra Yoga Simbolon saat ini aktif sebagai pelajar SMA.
© Sepenuhnya. All rights reserved.