Puisi: Seekor Angsa Berenang dalam Kolam (Karya Adri Darmadji Woko)

Puisi "Seekor Angsa Berenang dalam Kolam" karya Adri Darmadji Woko bercerita tentang seekor angsa yang berenang sendirian di telaga sunyi.

Uah, Uah,

Seekor Angsa Berenang dalam Kolam,

Sunyi Telah Menaboki Batok Kepalanya,

Karena Angsa Itu Perlu Mencelupkan

Kepalanya ke Dalam Air.


Sunyi dalam sunyi.

    Ada seekor angsa sendiri.

Berenang-renang tanpa menyebut dirinya jagoan.
Ia toh tidak pernah ikut lomba yang diadakan oleh siapapun juga.

    Ada seekor angsa sendiri.

Dalam telaga sunyi.
Matahari pura-pura malu melihat angsa yang telanjang tanpa koteka.
Ah, ada-ada saja kau. Melipat-lipat kabut dijadikan wiron.
Seperti mau pergi kondangan saja.
Ahai, sunyi matahari, biarpun bayang-bayangan tak pernah
    terpegang tapi mampukah menjinakkan sunyi?

    Ada seekor angsa sendiri.

Kawin dengan sunyi.
Maka menjelang upacara temon
angsa itupun berdendang: kwang, kwang, kwang

1974

Sumber: Horison (Oktober, 1975)

Analisis Puisi:

Puisi ini menghadirkan pengalaman membaca yang tenang, jenaka, sekaligus kontemplatif. Dengan pengulangan frasa, permainan bahasa, dan sentuhan humor yang halus, Adri Darmadji Woko mengajak pembaca menatap kesendirian bukan sebagai kekurangan, melainkan sebagai ruang eksistensi yang utuh dan sah.

Angsa dalam puisi ini bukan simbol keperkasaan atau keindahan yang dipamerkan, melainkan makhluk yang sepenuhnya berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan sunyi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesendirian dan keberadaan diri di tengah sunyi. Kesendirian tidak ditampilkan sebagai kesepian yang menyedihkan, melainkan sebagai kondisi alamiah yang dapat dijalani dengan ringan, jujur, dan bahkan jenaka.

Puisi ini bercerita tentang seekor angsa yang berenang sendirian di telaga sunyi. Ia tidak merasa perlu mengaku sebagai jagoan, tidak ikut lomba, dan tidak tampil untuk siapa pun. Angsa itu hidup dalam ritmenya sendiri, bahkan “kawin dengan sunyi”, menjadikan kesunyian sebagai pasangan hidupnya.

Narasi ini sederhana, namun sarat makna tentang kemandirian dan penerimaan diri.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik lembut terhadap budaya pamer, kompetisi, dan pengakuan sosial. Angsa yang tidak ikut lomba dan tidak menyebut dirinya jagoan menyiratkan sikap menolak validasi eksternal. Kesunyian justru menjadi ruang keintiman dengan diri sendiri, tempat seseorang dapat bernyanyi tanpa penonton.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sunyi, tenang, dan jenaka. Sunyi tidak menekan, melainkan cair dan bersahabat. Kehadiran humor ringan—seperti matahari yang malu atau kabut yang dijadikan wiron—menciptakan suasana reflektif yang tidak muram.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk berdamai dengan kesendirian dan tidak selalu menggantungkan makna hidup pada pengakuan orang lain. Hidup dapat dijalani secara utuh meski tanpa sorak-sorai, lomba, atau penonton.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji visual dan suasana yang kuat, antara lain:
  • “seekor angsa sendiri” sebagai imaji kesendirian yang jernih.
  • “telaga sunyi” sebagai ruang kontemplasi.
  • “matahari pura-pura malu” yang menghadirkan imaji visual sekaligus humor.
  • “kabut dijadikan wiron” yang membangun citra puitik dan imajinatif.
Imaji-imaji ini memperkaya pengalaman membaca dengan kesan ringan namun mendalam.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi, pada matahari yang merasa malu dan sunyi yang dapat “dikawini”.
  • Metafora, pada angsa sebagai simbol diri atau subjek yang otonom.
  • Repetisi, pada frasa “Ada seekor angsa sendiri” untuk menegaskan kesendirian.
  • Ironi, pada ketelanjangan angsa yang justru tidak menjadi masalah.
Puisi ini adalah perayaan sunyi yang jujur dan bersahaja. Melalui simbol angsa dan telaga, puisi ini menegaskan bahwa kesendirian tidak selalu perlu ditakuti atau dihindari. Dalam sunyi, seseorang justru dapat bernyanyi dengan suaranya sendiri—tanpa lomba, tanpa pengakuan, dan tanpa kehilangan makna.

Adri Darmadji Woko
Puisi: Seekor Angsa Berenang dalam Kolam
Karya: Adri Darmadji Woko

Biodata Adri Darmadji Woko:
  • Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.