Analisis Puisi:
Puisi "Selimut Malam" karya Mustiar AR memperlihatkan ekspresi batin yang intim dan personal. Larik-lariknya pendek, lirih, dan sarat muatan emosional. Melalui citraan malam, tubuh, dan sosok ibu, penyair menghadirkan pergulatan antara hasrat, kelelahan hidup, dan kesadaran akan kedewasaan yang datang bersama rasa bersalah dan kerinduan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kedewasaan yang lahir dari pergulatan batin dan pengalaman tubuh, disertai relasi emosional antara anak dan ibu. Puisi ini juga menyentuh tema kesepian, hasrat, dan pencarian makna diri dalam perjalanan menuju kematangan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami malam-malam penuh keintiman dan kelelahan. “Selimut malam” yang bergelayut manja di bahu memberi kesan kelekatan, baik secara emosional maupun fisik. Namun suasana kemudian bergeser: penyair tersengal di perempatan jalan—ruang antara, simbol persimpangan hidup. Pada akhirnya, puisi ditutup dengan pengakuan kepada ibu bahwa sang anak kini telah tumbuh dewasa.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada proses pendewasaan yang tidak selalu bersih dan ideal. “Selimut malam” dapat dimaknai sebagai pelindung sekaligus jerat—kenikmatan yang memberi kehangatan tetapi juga menyisakan kegelisahan. Perempatan jalan menyiratkan fase transisi: penyair berada di antara masa lalu dan masa depan, antara kepolosan dan pengalaman.
Pengakuan kepada ibu pada larik terakhir menyiratkan kesadaran moral dan emosional: kedewasaan bukan hanya soal usia, melainkan tentang memahami konsekuensi dari pilihan hidup.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa intim, lirih, dan sedikit getir. Ada kehangatan di awal, namun perlahan berubah menjadi kelelahan dan kesadaran diri yang sunyi, terutama pada gambaran jalan yang sepi dan dialog batin dengan sosok ibu.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dibaca sebagai pengingat bahwa proses menjadi dewasa kerap diiringi oleh pergulatan batin, kesalahan, dan rasa bersalah. Puisi ini mengajak pembaca untuk jujur pada diri sendiri dan berani mengakui perubahan yang telah dialami.
Puisi "Selimut Malam" adalah puisi singkat yang berani dan jujur dalam menyingkap ruang batin manusia. Mustiar AR menghadirkan perjalanan menuju kedewasaan bukan sebagai proses yang lurus dan terang, melainkan sebagai pengalaman sunyi yang akhirnya bermuara pada kesadaran dan pengakuan diri.
Karya: Mustiar AR