Senyum adalah Sedekah
Jika senyum adalah sedekah
Maka akulah orang termiskin
Yang menginginkan sedekah darimu
Yaitu senyumanmu yang manis
Lebih manis dari madu
Analisis Puisi:
Puisi "Senyum adalah Sedekah" karya Roman Adiwijaya merupakan puisi singkat dengan ungkapan yang sederhana namun sarat makna emosional dan religius. Dengan memanfaatkan ungkapan populer dalam tradisi moral dan keagamaan, penyair mengolahnya menjadi pengakuan personal tentang kerinduan akan perhatian, kasih, dan kehangatan manusiawi.
Tema
Tema puisi ini adalah kerinduan akan kasih sayang dan kehangatan melalui hal sederhana. Senyum diposisikan sebagai simbol kebaikan kecil yang memiliki nilai besar bagi jiwa yang kekurangan cinta.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memposisikan dirinya sebagai “orang termiskin” bukan dalam arti materi, melainkan batin. Ia menginginkan satu sedekah dari orang yang dirindukannya, yaitu sebuah senyuman yang manis dan tulus.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kemiskinan sejati tidak selalu berkaitan dengan harta, melainkan dengan kekosongan emosional. Senyum, yang tampak sepele, dapat menjadi pemberian yang sangat berharga bagi seseorang yang sedang merasa kurang diperhatikan atau dicintai.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana lembut, lirih, dan penuh harap. Nada puisinya tidak memaksa, melainkan memohon dengan kesederhanaan dan ketulusan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk berbagi kebaikan sekecil apa pun. Senyum yang tulus dapat menjadi sedekah yang berarti bagi orang lain, bahkan mampu menguatkan hati yang rapuh.
Puisi "Senyum adalah Sedekah" karya Roman Adiwijaya menunjukkan bahwa puisi tidak harus panjang untuk menyampaikan pesan yang kuat. Dengan bahasa yang sederhana dan simbol yang akrab, puisi ini mengingatkan pembaca bahwa kebaikan kecil—seperti senyum—dapat menjadi sedekah paling bermakna bagi sesama.