Analisis Puisi:
Puisi "Seorang Sahabat di Pinggir Danau" karya L.K. Ara menghadirkan suasana perjumpaan yang hening, spiritual, dan sarat makna. Melalui rangkaian tindakan sederhana—datang, berbicara, membersihkan diri, lalu bersujud—puisi ini menggambarkan perjalanan batin seorang manusia yang mencari ketenangan dan kedekatan dengan Tuhan di tengah alam dan sesama.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual dan pencarian makna ketuhanan melalui perjumpaan dengan alam dan manusia. Puisi ini juga mengangkat tema persahabatan, kesederhanaan iman, dan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Puisi ini bercerita tentang seorang sahabat yang datang dari negeri jauh dan berhenti di pinggir danau. Ia berinteraksi dengan alam—danau dan ombaknya—serta dengan manusia di sekitarnya, baik yang berpeci maupun berkerudung. Setelah itu, ia membersihkan diri dengan air danau dan bersujud lama di atas batu, hingga akhirnya larut dalam doa dan penyebutan nama Tuhan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah perjalanan batin manusia menuju kepasrahan dan pengakuan akan kebesaran Tuhan. Danau melambangkan ketenangan dan ruang kontemplasi, sementara dialog dengan alam dan manusia menyiratkan bahwa spiritualitas tidak terpisah dari kehidupan sosial. Sujud yang lama, tubuh yang bergoncang, dan mata yang basah menandakan pelepasan beban batin serta kejujuran iman yang lahir dari pengalaman hidup.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa kedekatan dengan Tuhan dapat ditemukan di mana saja, bahkan di pinggir danau yang sunyi, bukan hanya di ruang-ruang ibadah formal.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya kerendahan hati dan kejujuran dalam menjalani hubungan dengan Tuhan dan sesama. Puisi ini mengingatkan bahwa iman sejati tumbuh dari perenungan, kesediaan mendengarkan, serta keberanian menundukkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa.
Puisi "Seorang Sahabat di Pinggir Danau" karya L.K. Ara merupakan puisi reflektif yang menautkan alam, manusia, dan Tuhan dalam satu tarikan napas spiritual. Dengan bahasa yang sederhana namun khusyuk, puisi ini mengajak pembaca merenungi makna persahabatan, perjalanan batin, dan kepasrahan yang lahir dari perjumpaan sunyi dengan Yang Maha Esa.