Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Sepanjang Sungai (Karya Abrar Yusra)

Puisi “Sepanjang Sungai” bercerita tentang seseorang yang berada di tepi sungai, di dalam sungai, dan sepanjang sungai—siang dan malam—dalam ...
Sepanjang Sungai

        Di tepi sungai, di dalam sungai, sepanjang sungai
aku tidak bicara. Sebab aku sendirian
sepanjang siang sepanjang malam
        Aku tidak bicara sebab aku sendirian
        Aku melewati hari. Harus melewati hari
dari siang ke malam dan malam ke siang
        Tubuh berpeluh
        Hatiku sunyi
        Yang bicara hanya bunyi air
yang meradang, yang tertumbuk-tumbuk tapi terus menghilir
        Aku tidak bicara. Sebab aku sendirian
        Yang bicara ialah air. Bunyi air
        Apa bicara air?
        Apa bicara air aku tidak mengerti!
        Tapi ada bunyi air, yang mengalir dan yang hilir
yang bicara dengan sunyi, sunyi sepanjang sungai
        Bunyi air!
        Bunyi air memenuhi sunyi. Memenuhi hidupku
dan siang ke malam dan malam ke siang
        Dari kelam ke mimpi
        Dari mimpi ke hangus matahari!
        Kudengar bunyi air. Aku dirasuki bunyi air
        Kudengar bunyi air di luar di dalam diriku
        Kudengar bunyi air bunyi bicaraku
        Apa bicara air aku tidak mengerti
        Bicara air bicaraku. Bicaraku bicara air!
        Sungguh sebenarnya aku tak mengerti
        Aku sebenarnya tidak bicara. Sebab aku sendiri
        Kudengar bunyi-bunyi air
        Di luar di dalam diriku!

Sumber: Horison (Juli, 1989)

Analisis Puisi:

Puisi “Sepanjang Sungai” menghadirkan pengalaman kesunyian yang intens dan berulang. Abrar Yusra menggunakan ritme repetitif, pengulangan frasa, dan simbol alam untuk menggambarkan keterasingan manusia sekaligus usaha memahami diri melalui sesuatu di luar dirinya: bunyi air sungai. Puisi ini bergerak pelan, seperti aliran sungai itu sendiri, namun menyimpan pergulatan batin yang dalam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesepian eksistensial dan pencarian makna diri. Sungai menjadi medium perenungan tentang keberadaan manusia yang sendirian, terputus dari komunikasi sosial, tetapi justru berhadapan dengan suara batin yang samar.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di tepi sungai, di dalam sungai, dan sepanjang sungai—siang dan malam—dalam kondisi sendirian. Ia tidak berbicara, bukan karena tidak ada kata, tetapi karena kesendirian itu sendiri. Yang “berbicara” justru bunyi air: mengalir, menghantam, dan terus bergerak. Penyair mendengar bunyi air itu di luar dan di dalam dirinya, hingga batas antara suara alam dan suara batin menjadi kabur.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa dalam kesunyian terdalam, manusia sering kali tidak benar-benar diam. Ada dialog batin yang berlangsung tanpa kata-kata. Sungai melambangkan waktu, kehidupan, dan kesadaran yang terus mengalir meski tak sepenuhnya dipahami. Ketika penyair berkata “apa bicara air aku tidak mengerti”, itu menandakan keterbatasan manusia dalam memahami makna hidup, meski ia terus menjalaninya dari siang ke malam dan malam ke siang.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sunyi, repetitif, dan meditatif. Kesunyian itu bukan kosong, melainkan penuh oleh bunyi air yang justru menegaskan keterasingan dan perenungan yang mendalam.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini dapat dibaca sebagai kesadaran bahwa kesepian adalah bagian dari pengalaman manusia. Dalam kesendirian, manusia berhadapan langsung dengan dirinya sendiri. Tidak semua hal harus dimengerti secara rasional; ada pengalaman hidup yang hanya bisa dirasakan dan dijalani, seperti aliran sungai.

Puisi “Sepanjang Sungai” adalah puisi kontemplatif yang kuat dan konsisten secara bentuk dan makna. Abrar Yusra berhasil menjadikan sungai bukan sekadar latar, melainkan suara lain dari diri manusia—suara yang terus mengalir, berbicara dalam sunyi, dan tidak selalu dapat dimengerti, tetapi tak pernah berhenti menemani hidup.

Abrar Yusra
Puisi: Sepanjang Sungai
Karya: Abrar Yusra

Biodata Abrar Yusra:
  • Abrar Yusra lahir pada tanggal 28 Maret 1943 di Lawang Matur, Agam, Sumatra Barat.
  • Abrar Yusra meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 2015 di Bogor, Jawa Barat (pada umur 72 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.