Analisis Puisi:
Puisi “Sepanjang Sungai” menghadirkan pengalaman kesunyian yang intens dan berulang. Abrar Yusra menggunakan ritme repetitif, pengulangan frasa, dan simbol alam untuk menggambarkan keterasingan manusia sekaligus usaha memahami diri melalui sesuatu di luar dirinya: bunyi air sungai. Puisi ini bergerak pelan, seperti aliran sungai itu sendiri, namun menyimpan pergulatan batin yang dalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesepian eksistensial dan pencarian makna diri. Sungai menjadi medium perenungan tentang keberadaan manusia yang sendirian, terputus dari komunikasi sosial, tetapi justru berhadapan dengan suara batin yang samar.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di tepi sungai, di dalam sungai, dan sepanjang sungai—siang dan malam—dalam kondisi sendirian. Ia tidak berbicara, bukan karena tidak ada kata, tetapi karena kesendirian itu sendiri. Yang “berbicara” justru bunyi air: mengalir, menghantam, dan terus bergerak. Penyair mendengar bunyi air itu di luar dan di dalam dirinya, hingga batas antara suara alam dan suara batin menjadi kabur.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa dalam kesunyian terdalam, manusia sering kali tidak benar-benar diam. Ada dialog batin yang berlangsung tanpa kata-kata. Sungai melambangkan waktu, kehidupan, dan kesadaran yang terus mengalir meski tak sepenuhnya dipahami. Ketika penyair berkata “apa bicara air aku tidak mengerti”, itu menandakan keterbatasan manusia dalam memahami makna hidup, meski ia terus menjalaninya dari siang ke malam dan malam ke siang.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa sunyi, repetitif, dan meditatif. Kesunyian itu bukan kosong, melainkan penuh oleh bunyi air yang justru menegaskan keterasingan dan perenungan yang mendalam.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini dapat dibaca sebagai kesadaran bahwa kesepian adalah bagian dari pengalaman manusia. Dalam kesendirian, manusia berhadapan langsung dengan dirinya sendiri. Tidak semua hal harus dimengerti secara rasional; ada pengalaman hidup yang hanya bisa dirasakan dan dijalani, seperti aliran sungai.
Puisi “Sepanjang Sungai” adalah puisi kontemplatif yang kuat dan konsisten secara bentuk dan makna. Abrar Yusra berhasil menjadikan sungai bukan sekadar latar, melainkan suara lain dari diri manusia—suara yang terus mengalir, berbicara dalam sunyi, dan tidak selalu dapat dimengerti, tetapi tak pernah berhenti menemani hidup.
Puisi: Sepanjang Sungai
Karya: Abrar Yusra
Biodata Abrar Yusra:
- Abrar Yusra lahir pada tanggal 28 Maret 1943 di Lawang Matur, Agam, Sumatra Barat.
- Abrar Yusra meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 2015 di Bogor, Jawa Barat (pada umur 72 tahun).