Puisi: Sepokok Kayu Usang (Karya Pena Senja)

Puisi “Sepokok Kayu Usang” karya Pena Senja bercerita tentang seorang gadis yang berusaha melindungi dirinya dari kekecewaan dengan meyakini bahwa ...

Sepokok Kayu Usang

Dariku, seorang gadis yang tak mempunyai tempat istimewa di hati orang lain. Ya, itu adalah kalimat yang aku pegang erat guna untuk menghindarkan diriku dari pahitnya kekecewaan.

Sebab tanpa kalimat itu aku mungkin akan terbuai oleh imajinasi bahwa aku adalah seseorang yang dicintai, padahal nyatanya kehadiranku mungkin sama sekali tidak diinginkan.

Bukan perihal cinta yang tak mendapat balasan, melainkan tentang sebuah harapan yang tersandar pada sepokok kayu usang.

Mungkin saja sang kayu melukaimu tanpa sengaja, karena dahan yang lapuk di luar kendalinya. Ia memberi teduh, melindungi dari terik mentari. Tapi tanpa kamu duga dahannya yang lapuk jatuh tepat di hatimu.

Pojok kamar, 11 Desember 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Sepokok Kayu Usang” karya Pena Senja menghadirkan perenungan batin tentang harapan, kekecewaan, dan kesadaran diri dalam relasi emosional. Disampaikan melalui sudut pandang seorang gadis yang merasa tidak memiliki tempat istimewa di hati orang lain, puisi ini menampilkan kejujuran perasaan yang pahit namun matang. Metafora “sepokok kayu usang” menjadi pusat makna yang merangkum keseluruhan pengalaman batin penyair. Puisi ini tidak berteriak tentang luka, melainkan mengisahkannya dengan nada tenang dan reflektif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah harapan yang rapuh dan kekecewaan emosional. Selain itu, puisi ini juga memuat tema penerimaan diri, kesadaran akan posisi diri dalam relasi, serta kehati-hatian dalam menggantungkan perasaan. Tema cinta hadir bukan sebagai romansa, melainkan sebagai ruang refleksi yang pahit.

Puisi ini bercerita tentang seorang gadis yang berusaha melindungi dirinya dari kekecewaan dengan meyakini bahwa ia tidak memiliki tempat istimewa di hati siapa pun. Keyakinan itu menjadi tameng agar ia tidak terbuai oleh harapan semu.

Penyair kemudian mengibaratkan harapan tersebut seperti bersandar pada sepokok kayu usang—yang tampak memberi perlindungan, namun sebenarnya rapuh dan berpotensi melukai tanpa disengaja.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini menegaskan bahwa tidak semua yang tampak memberi keteduhan benar-benar aman untuk dijadikan sandaran. Kayu usang melambangkan sosok atau harapan yang sudah rapuh, tidak lagi kokoh, namun tetap dipercayai karena memberikan rasa nyaman sesaat.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa luka emosional tidak selalu lahir dari niat jahat, melainkan dari ketidaksadaran dan keterbatasan pihak yang diharapkan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa sendu, pahit, dan reflektif. Ada kesedihan yang tertahan, tetapi juga kedewasaan dalam cara aku lirik memaknai lukanya. Nuansa ini membuat puisi terasa tenang sekaligus perih.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya berhati-hati dalam menggantungkan harapan dan perasaan. Puisi ini mengajarkan bahwa melindungi diri bukan berarti menutup hati sepenuhnya, tetapi memahami batas agar tidak terluka terlalu dalam.

Puisi ini juga menyampaikan pesan tentang penerimaan: bahwa menyadari posisi diri adalah langkah awal untuk berdamai dengan kenyataan.

Puisi “Sepokok Kayu Usang” karya Pena Senja merupakan refleksi emosional yang jujur tentang harapan yang salah tempat. Dengan metafora alam yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk menimbang ulang kepada siapa dan pada apa perasaan digantungkan. Dalam kesederhanaannya, puisi ini mengingatkan bahwa tidak semua yang tampak meneduhkan layak dijadikan sandaran hati.

Pena Senja
Puisi: Sepokok Kayu Usang
Karya: Pena Senja

Biodata Pena Senja:

Pena Senja lahir pada tanggal 20 Februari 2004 di Tangerang. Sejak duduk di kelas 4 SD, tepatnya di SDN Sukamanah 1, ia sudah gemar mengumpulkan komik dengan berbagai genre, di antaranya ada cerita rakyat, horor, dan jenaka. Ia memiliki hobi membaca, menulis, dan menonton film. Gadis dengan zodiak pisces ini sangat suka dengan warna biru, katanya biru itu bisa menenangkan bisa juga menenggelamkan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.