Seribu Kaca
seribu kaca mengacakan wajah mata
(yang satu api, yang satu air)
mengekalkan sayap waktu. Langit lengkung
terkadang kami menaiki tiang bumi
mandi air mancur di kolam langit
tumpah. Menyerah di ladang kapur
(petani tulang menanam tulang bayi)
kekallah angin. Terkadang pergi ke kiri,
terkadang ke kanan, dan balik dari kanan
terjun ke kolam. Melemaskan otot lelaki
(pelabuhan mengekalkan lampu harapan)
kekallah arwah bocah-bocah lendir
arwah tulang tanpa daging menggeliat
benci kesesaatan, benci kesetempatan
dunia. Percintaan singkat di pesisir
1982
Sumber: Horison (November, 1982)
Analisis Puisi:
Puisi “Seribu Kaca” menghadirkan dunia yang terfragmentasi, penuh pantulan, dan sulit ditangkap secara tunggal. Sejak larik pembuka, pembaca diajak masuk ke ruang simbolik yang pecah, di mana wajah, waktu, dan pengalaman manusia dipantulkan melalui “seribu kaca”. Puisi ini bergerak dalam bahasa padat, metaforis, dan cenderung surealis, khas gaya Beni Setia yang mengaburkan batas antara tubuh, alam, dan sejarah.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterpecahan identitas dan kefanaan manusia dalam arus waktu dan dunia yang tak stabil. Tema lain yang menyertai adalah kekerasan tersembunyi, ingatan kolektif, dan kegelisahan eksistensial.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman manusia yang terpantul dan terpecah dalam banyak lapisan realitas. Wajah dan mata tidak lagi utuh, melainkan diacak oleh “seribu kaca”. Subjek lirik bergerak dari langit ke bumi, dari kolam ke ladang kapur, menyaksikan tubuh, tulang, dan arwah bocah-bocah hadir sebagai fragmen kehidupan dan kematian.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa dunia modern dan sejarah kemanusiaan penuh dengan pantulan palsu dan kebenaran yang terpecah. “Seribu kaca” dapat dibaca sebagai simbol sudut pandang yang saling bertabrakan, trauma kolektif, serta ingatan yang tak pernah utuh. Kehadiran tulang bayi dan arwah bocah mengisyaratkan kekerasan yang diwariskan dan tak selesai diolah oleh dunia.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi cenderung muram, ganjil, dan mencekam. Imaji kematian, tulang, dan arwah menghadirkan rasa ngeri yang tenang, seolah kekerasan telah menjadi bagian keseharian yang dingin dan tak lagi mengejutkan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat agar manusia menyadari betapa rapuh dan terpecahnya kesadaran dalam dunia yang penuh ilusi. Kesetiaan pada kemanusiaan menuntut keberanian untuk menghadapi ingatan pahit dan menolak lupa pada korban-korban yang terpinggirkan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji, antara lain:
- Imaji visual: seribu kaca, langit lengkung, kolam langit, ladang kapur.
- Imaji gerak: terjun ke kolam, menaiki tiang bumi, angin yang pergi dan kembali.
- Imaji tubuh dan kematian: tulang bayi, arwah bocah-bocah, tulang tanpa daging.
Imaji-imaji ini membangun lanskap surealis yang terasa asing namun sugestif.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, seperti “seribu kaca” dan “sayap waktu”.
- Personifikasi, pada angin yang memilih arah dan pelabuhan yang “mengekalkan lampu harapan”.
- Paradoks, pada gambaran kehidupan dan kematian yang hadir berdampingan.
- Surealisme, sebagai cara utama pengucapan puisi, menghadirkan logika mimpi dan simbol bawah sadar.
Puisi “Seribu Kaca” karya Beni Setia merupakan puisi yang menuntut pembacaan kontemplatif. Melalui bahasa simbolik dan imaji yang terpecah, puisi ini merekam kegelisahan manusia yang hidup di tengah pantulan-pantulan dunia, di mana identitas, sejarah, dan kemanusiaan terus diuji oleh waktu dan kekerasan yang tak sepenuhnya selesai.
Biodata Beni Setia:
- Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
