Puisi: Seruan (Karya Djamil Suherman)

Puisi “Seruan” karya Djamil Suherman adalah kritik terhadap sikap pasif, retoris, dan romantisme berlebihan yang menjauh dari realitas perjuangan.
Seruan

Ditingkap perjuangan kini jangan seorang membuat janji
tentang masa depan yang kabur - tertancapkan bendera di timur
saat fajar tersingkap kulepas peluru jantanku
dan bangun untuk semua yang mati
setiap langkah hanya kebagian sekali
maut dan kemerdekaan
meski beribu tombak dipatahkan, ikutkan
walau ke jurang paling dalam
pancangkan seribu doa dan hapus segala kenang
setiap tetes airmata didihkan biar bertambah garang
demi darah anak pahlawan

Ditingkap perjuangan kini jangan orang mencipta sajak
tentang masa remaja yang sendu sedap jadikan bajak
saat sungai masih mengalirkan kesuburan - kulepas hasratku
bangun untuk semua yang terharu
setiap jangkauan hanya kebagian sekali
maut dan kemerdekaan
bawalah daku ke penderitaan paling dalam
panjatkan seribu puja dan hapus segala ingatan
dan tuangkan anggur paling garang
demi tanah kelahiran membakar api kemerdekaan

Tombak-tombak telah ditancapkan, pedang-pedang bertetakan
runcingkan segala yang tumpul, asah segala yang rompeng
anak gembala menyandang suling jadi bedil
wahai penyair, lagukan
pertarungan dimulai lagi.

1962

Sumber: Nafiri (1983)

Analisis Puisi:

Puisi “Seruan” karya Djamil Suherman merupakan puisi yang bernapas heroik dan revolusioner. Larik-lariknya bergerak seperti pidato perjuangan yang memanggil kesadaran kolektif, menolak romantisme kosong, dan menegaskan bahwa kemerdekaan hanya lahir dari keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan pada cita-cita bersama.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan kemerdekaan dan pengorbanan demi tanah air. Puisi ini menempatkan perjuangan sebagai tindakan nyata, bukan sekadar wacana, janji, atau kenangan sentimentil.

Puisi ini bercerita tentang sebuah seruan untuk bangkit dan bertindak di tengah situasi perjuangan. Penyair mengajak semua pihak—termasuk penyair—untuk tidak terjebak pada janji masa depan yang kabur atau sajak-sajak melankolis, melainkan ikut serta dalam pertarungan nyata demi kemerdekaan. Perjuangan digambarkan sebagai ruang di mana maut dan kemerdekaan berdiri sejajar, dan setiap langkah hanya diberikan satu kesempatan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap sikap pasif, retoris, dan romantisme berlebihan yang menjauh dari realitas perjuangan. Djamil Suherman menyiratkan bahwa kemerdekaan tidak diraih dengan kata-kata indah atau nostalgia, melainkan dengan keberanian menghadapi penderitaan, kehilangan, dan bahkan kematian. Penyair pun ditantang untuk tidak sekadar menjadi pengamat, tetapi turut menjadi bagian dari pergulatan sejarah.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana tegang, heroik, dan membakar semangat. Nada seruan terasa kuat dan mendesak, seolah pembaca diajak berdiri di medan laga, di ambang pilihan antara hidup yang aman atau kemerdekaan yang penuh risiko.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa perjuangan menuntut keikhlasan dan keberanian total. Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memperjuangkan kemerdekaan, bukan dengan janji atau ratapan, melainkan dengan tindakan dan kesediaan berkorban demi darah para pahlawan dan tanah kelahiran.

Puisi “Seruan” karya Djamil Suherman adalah puisi ajakan yang keras dan jujur, menolak kepalsuan dan sikap setengah-setengah dalam memperjuangkan kemerdekaan. Dengan bahasa yang lugas, simbol-simbol perlawanan yang kuat, serta nada yang menggelegar, puisi ini menegaskan bahwa pertarungan sejarah tidak pernah benar-benar selesai—dan setiap zaman menuntut keberanian baru untuk kembali memulainya.

Puisi: Seruan
Puisi: Seruan
Karya: Djamil Suherman

Biodata Djamil Suherman:
  • Djamil Suherman lahir di Surabaya, pada tanggal 24 April 1924.
  • Djamil Suherman meninggal dunia di Bandung, pada tanggal 30 November 1985 (pada usia 61 tahun).
  • Djamil Suherman adalah salah satu sastrawan angkatan 1966-1970-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.