Sesak
Mentari mulai bersinar
Menampakkan senyum surya
Yang tak pernah diperuntukkan padaku
Ia hangat,
Namun terlalu kokoh untuk kudekati.
Aku tahu
Aku bukan perempuan yang datang
Dalam imajinasi siapapun
Tubuhku bukan doa
Bukan juga harap
Dan namaku tak pernah tersebut
Bahkan dalam angan.
Langitku kehilangan pelangi
Warna-warnanya runtuh satu persatu
Seakan mengejek hati
Yang memilih hampa
Demi tetap utuh.
Aku mengagumimu
Seperti senja mengagumi malam
Dekat,
Namun tak pernah memeluk.
Kau adalah nama yang ramai diperebutkan
Sementara aku,
Hanya rumah sunyi
Yang tahu caranya diam
Traumamu,
Kugenggam bagai barang rapuh
Tak berani kusentuh terlalu erat
Kutakut harapku akan merusak
Di hadapan lukamu yang besar
Maka saat ini aku belajar
Mencintai tanpa suara
Mengagumi tanpa hak
Menahan agar tak merusak
Setiap hembusan napasku berlatih
Menjadi cukup kuat
Berharap lukamu dapat tersembuhkan
Jika suatu hari hujan benar-benar turun
Dan surya berkenan melindungi
Biarlah dewi eutychia mengerjakan tugasnya
Karena mencintai dalam diam
Adalah keberanian paling sunyi
menghapus namaku sendiri dari kemungkinan,
Harap doa yang kugenggam tak pernah kuucap,
agar sesuatu utuh
meski hatiku harus hancur
tanpa pernah benar-benar memiliki.
Kab. 50 Kota, 2026
Analisis Puisi:
Puisi “Sesak” karya Oktavia Yumaini Saputri menghadirkan suara batin yang lirih namun kuat. Melalui bahasa yang puitis dan metafora alam yang lembut, puisi ini mengungkap pengalaman mencintai dari posisi yang tidak memiliki ruang, tidak memiliki hak, dan tidak pernah benar-benar diakui. Judul “Sesak” menjadi penanda utama perasaan yang mengendap sepanjang puisi: penuh, tertahan, dan nyaris tak menemukan jalan keluar.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah cinta dalam diam yang disertai keterasingan dan pengorbanan diri. Cinta tidak hadir sebagai kebahagiaan yang dirayakan, melainkan sebagai beban emosional yang harus dipikul sendiri.
Selain itu, puisi ini juga memuat tema ketidaklayakan diri, keterbatasan harapan, dan keberanian untuk meniadakan diri demi keutuhan orang lain.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mencintai seseorang tanpa pernah memiliki ruang untuk dicintai kembali. Ia menyadari posisinya yang tidak pernah menjadi pilihan, tidak masuk dalam imajinasi siapa pun, dan hanya mampu mengagumi dari kejauhan.
Relasi yang digambarkan bersifat timpang: yang satu “ramai diperebutkan”, sementara yang lain hanya “rumah sunyi”. Penyair memilih mencintai dengan diam, menjaga luka orang yang dicintai, meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki, tetapi sering kali tentang menahan diri dan menghapus eksistensi sendiri dari kemungkinan. Puisi ini menyiratkan kepedihan seseorang yang sadar akan batasnya, lalu memilih berkorban demi keutuhan orang lain.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan kritik halus terhadap standar cinta dan kelayakan, di mana seseorang merasa dirinya “bukan doa” dan “bukan harap”, seolah tidak pantas untuk dicintai.
Suasana dalam Puisi
Puisi ini menghadirkan suasana melankolis, sunyi, dan menekan. Perasaan hampa, kehilangan, dan keterasingan mendominasi hampir setiap bait.
Suasana ini semakin kuat dengan pilihan diksi seperti sunyi, hampa, runtuh, diam, luka, dan menghapus namaku sendiri, yang membangun kesan batin yang tertekan namun pasrah.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah tentang keberanian mencintai tanpa tuntutan, sekaligus risiko kehilangan diri sendiri. Puisi ini mengingatkan bahwa mencintai dalam diam memang tampak mulia, tetapi juga menyimpan luka yang dalam jika tidak disertai keberanian untuk mengakui kebutuhan diri.
Puisi ini juga menyiratkan pesan tentang empati terhadap luka orang lain, namun dengan harga emosional yang tidak kecil.
Puisi “Sesak” karya Oktavia Yumaini Saputri adalah potret emosional tentang cinta yang dipendam, pengorbanan tanpa pengakuan, dan keberanian paling sunyi: meniadakan diri demi orang lain. Dengan bahasa yang lembut namun menghujam, puisi ini mengajak pembaca menyelami ruang batin seseorang yang memilih diam, meski harus hancur tanpa pernah benar-benar memiliki.
Puisi ini tidak menawarkan penyelesaian, melainkan kejujuran perasaan—dan justru di sanalah kekuatannya berada.
Karya: Oktavia Yumaini Saputri
Biodata Oktavia Yumaini Saputri:
Oktavia Yumaini Saputri lahir pada tanggal 3 Oktober 2002 di Jakarta. Merupakan seorang Mahasiswi jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Suka menjelajah dan mencintai dunia sastra. Penulis bisa disapa di Instagram @oktaviayumaini