Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Setengah Abad Ibu (Karya Andy Sri Wahyudi)

Puisi "Setengah Abad Ibu" karya Andy Sri Wahyudi bercerita tentang seorang ibu yang selama setengah abad menjalani rutinitas berdandan di kamar mandi—
Setengah Abad Ibu

Setengah abad ibu berdandan di kamar mandi,
menggambari wajahnya dengan embun dan
hujan. Membayangkan shinta, drupadi, dan
nawang wulan meludahi kesetiaan. Tak ada
bunga tumbuh di kepala kecuali melati coklat
kering temangsang di pelipisnya.
Pernak-pernik cerita menguap di bibir berpoles
gincu warna besi tua, matanya khusyuk
menatap waktu.
Ia tak lagi ingin cantik, tubuhnya tak lagi ingin
wangi, diam membiarkan lelaki jumpalitan
menjelma api membakari cerita paginya yang
selalu gagal ia padamkan dengan air mata.
Setengah abad ibu berdandan di kamar mandi
menggambari wajahnya dengan embun dan
hujan. Membayangkan shinta, drupadi, dan
nawang wulan meludahi kesetiaan.
Setengah abad sudah ibu!

Jogja, 2006

Sumber: Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola (2012)

Analisis Puisi:

Puisi "Setengah Abad Ibu" karya Andy Sri Wahyudi menghadirkan potret getir tentang perempuan, waktu, dan kesetiaan yang terkikis oleh pengalaman hidup. Sosok ibu digambarkan bukan sebagai figur ideal yang romantik, melainkan manusia yang menua bersama luka, kenangan, dan kegagalan cinta. Bahasa puisi yang simbolik dan berulang menegaskan lamanya penderitaan yang dijalani dalam kesunyian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketabahan dan kelelahan batin seorang ibu dalam menghadapi pengkhianatan dan waktu. Puisi ini menyoroti usia, luka emosional, serta kesetiaan yang tak berbalas.

Puisi ini bercerita tentang seorang ibu yang selama setengah abad menjalani rutinitas berdandan di kamar mandi—sebuah aktivitas yang berubah makna dari upaya merawat diri menjadi ritual mengenang dan meratap. Ia membayangkan tokoh-tokoh perempuan mitologis seperti Shinta, Drupadi, dan Nawang Wulan, yang kesetiaannya justru “diludahi”. Ibu itu akhirnya tak lagi ingin cantik atau wangi, pasrah pada luka yang terus menyala dalam hidupnya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap konstruksi kesetiaan perempuan yang kerap berujung pada penderitaan. Ibu menjadi simbol perempuan yang menanggung beban moral dan emosional dalam relasi, sementara lelaki digambarkan bebas “jumpalitan” dan meninggalkan luka. Waktu yang terus ditatap ibu menunjukkan kesadaran bahwa hidup telah lebih banyak diisi luka ketimbang harapan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, getir, dan penuh kepedihan yang tertahan. Kesunyian kamar mandi, embun, hujan, dan air mata membangun atmosfer kesedihan yang panjang dan melelahkan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk lebih menghargai perempuan—terutama ibu—yang sering memikul luka dalam diam. Puisi ini juga mengingatkan agar kesetiaan tidak dimaknai sebagai kewajiban sepihak yang mengorbankan diri.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan imaji perasaan. Imaji visual tampak pada ibu berdandan di kamar mandi, gincu warna besi tua, serta melati coklat kering di pelipis. Imaji perasaan muncul melalui air mata, api, dan kegagalan yang berulang, menghadirkan sensasi lelah dan perih batin.

Majas

Puisi ini menggunakan majas metafora, personifikasi, dan repetisi. Metafora tampak pada “menggambari wajahnya dengan embun dan hujan” sebagai simbol luka dan air mata. Personifikasi hadir dalam “matanya khusyuk menatap waktu”. Repetisi pada frasa “Setengah abad ibu berdandan di kamar mandi” menegaskan lamanya penderitaan yang dijalani.

Puisi "Setengah Abad Ibu" adalah puisi yang kuat secara emosional dan kritis. Andy Sri Wahyudi berhasil menghadirkan potret ibu sebagai manusia utuh—bukan simbol ideal semata—yang menua bersama luka, kesetiaan yang dikhianati, dan waktu yang tak pernah berbelas kasihan.

Andy Sri Wahyudi
Puisi: Setengah Abad Ibu
Karya: Andy Sri Wahyudi

Biodata Andy Sri Wahyudi:
  • Andy Sri Wahyudi lahir pada 13 Desember 1980 di kampung Mijen, Minggiran, Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.