Analisis Puisi:
Puisi "Siapa" bergerak dalam irama tanya, dendang, dan pengulangan yang menyerupai mantra atau pantun lisan. Dengan bahasa yang kental nuansa tradisi Melayu—melalui diksi seperti telaga, pantun, serapah, jampi, dan pitunang—puisi ini mengungkap kisah cinta yang retak, kehilangan, serta kegelisahan batin yang tak menemukan jawaban pasti.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehilangan dan pengkhianatan dalam cinta, yang dibingkai dalam suasana magis dan tradisi lisan. Tema ini juga bersinggungan dengan kekuatan kata, mantra, dan ilusi penguasaan terhadap perasaan orang lain.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bernyanyi di tepi telaga, menghitung hari dalam penantian panjang karena sosok yang dicintai tak kunjung pulang. Penyair menyinggung masa lalu ketika semangat, jampi, dan ritual cinta pernah dipasang sebagai pengikat kasih. Namun, semua usaha itu gagal: cinta tetap lerai, kasih tetap sepi, dan yang tersisa hanyalah pertanyaan “siapa” yang terus berulang tanpa jawaban.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, apalagi dikendalikan dengan tipu daya atau “serapah jampi”. Pengulangan pertanyaan “siapa” mencerminkan kebingungan batin dan krisis kepercayaan—baik kepada orang yang dicintai maupun kepada diri sendiri. Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap keinginan manusia untuk memiliki cinta secara utuh, padahal cinta sejatinya tak dapat “dirampas” atau “dibagi”.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana muram, lirih, dan melankolis. Nuansa penantian panjang, sepi, dan kegagalan cinta terasa kuat, diperkuat oleh irama pengulangan yang menyerupai nyanyian duka.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa cinta harus berlandaskan keikhlasan dan kejujuran. Segala bentuk paksaan, manipulasi, atau tipu daya—baik melalui kata, janji, maupun simbol magis—tidak akan mampu mempertahankan cinta yang sejati.
Puisi "Siapa" karya Ediruslan PE Amanriza menunjukkan kekuatan puisi liris yang berpijak pada tradisi lisan untuk mengungkap persoalan cinta yang universal. Dengan bahasa yang sederhana namun magis, puisi ini menegaskan bahwa kehilangan dan kegagalan cinta kerap meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban—pertanyaan yang terus bergema dalam dendang dan keheningan.
Biodata Ediruslan PE Amanriza:
- Ediruslan PE Amanriza lahir pada tanggal 17 Agustus 1947 di Bagan-siapiapi, Riau.
- Ediruslan PE Amanriza meninggal dunia pada tanggal tanggal 3 Oktober 2001.
- Ediruslan PE Amanriza adalah salah satu penulis puisi, cerita pendek, novel, dan esai sastra.
