Puisi: Suara (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Suara" karya Gunoto Saparie bercerita tentang seseorang yang mempertanyakan asal sebuah suara—suara yang kadang tersekat duka, kadang ...
Suara

suara siapakah itu gerangan
sesekali tersekat dalam duka?
ketika hujan luruh tiba-tiba
apakah suara-Mu sayup di kejauhan?

suara siapakah itu menggema rawan
melengkapkan senja tanpa bulan?
ketika salawat tarhim mengalun
menyelesaikan saat magrib tertahan-tahan

ketika detik jam memperdalam sunyi
suara siapakah itu gemetar sendu?
adakah yang lebih beku
selain es, kecuali hati merah ini?

2021

Analisis Puisi:

Puisi "Suara" karya Gunoto Saparie merupakan sajak pendek yang sarat nuansa renungan dan spiritualitas. Dengan bahasa yang tenang, puitis, dan penuh tanya, penyair mengajak pembaca menyimak “suara” yang tidak pernah dijelaskan secara gamblang, tetapi terus dihadirkan melalui suasana hujan, senja, magrib, dan sunyi malam. Justru ketakterjelasan itulah yang menjadi kekuatan puisi ini: suara hadir sebagai misteri yang menggugah kesadaran batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna suara batin dan suara ketuhanan dalam kesunyian hidup. Puisi ini juga menyentuh tema spiritualitas, kegelisahan eksistensial, serta perenungan manusia di hadapan duka dan waktu.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mempertanyakan asal sebuah suara—suara yang kadang tersekat duka, kadang menggema rawan, dan kadang terdengar gemetar sendu di tengah sunyi.

Suara itu muncul dalam berbagai situasi: ketika hujan tiba-tiba luruh, saat senja tanpa bulan, ketika salawat tarhim mengalun di waktu magrib, hingga pada detik jam yang memperdalam sunyi. Penyair terus bertanya: siapakah pemilik suara itu? Apakah itu suara Tuhan, suara hati, atau gema kesadaran manusia sendiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kerinduan manusia untuk menangkap makna ilahi dan kebenaran batin di tengah kesunyian dan penderitaan. “Suara” dapat ditafsirkan sebagai suara Tuhan yang samar, suara nurani, atau bahkan suara duka yang lahir dari hati yang terluka.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak dimaksudkan untuk dijawab secara pasti, melainkan untuk direnungkan. Puisi ini menyiratkan bahwa dalam sunyi yang paling dalam, manusia sering berhadapan dengan dirinya sendiri—dan dengan Yang Maha Ada—namun tidak selalu mampu mengenali-Nya secara jelas.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, sendu, dan kontemplatif. Ada nuansa duka yang lembut, kegelisahan yang tertahan, serta kesyahduan religius, terutama saat penggambaran waktu magrib dan lantunan salawat tarhim. Keseluruhan suasana puisi mengajak pembaca untuk melambat, diam, dan mendengarkan batin.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk peka terhadap suara batin dan tanda-tanda spiritual yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Puisi ini mengingatkan bahwa makna sering kali tidak datang dalam bentuk jawaban terang, melainkan melalui tanya, sunyi, dan perenungan.

Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan bahwa hati manusia dapat membeku oleh duka dan kegelisahan, tetapi kesadaran akan suara batin dapat menjadi jalan untuk kembali merasakan kehangatan makna hidup.

Puisi "Suara" karya Gunoto Saparie adalah sajak reflektif yang mengandalkan keheningan sebagai kekuatan utama. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, puisi ini mengajak pembaca mendengarkan sesuatu yang sering terabaikan: suara batin yang muncul di antara duka, doa, dan sunyi—suara yang mungkin tidak pernah benar-benar terjawab, tetapi selalu layak direnungkan.

Gunoto Saparie
Puisi: Suara
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.