Sumber: Dalam Rimba Bayang-Bayang (2003)
Analisis Puisi:
Puisi "Suara-Suara" menampilkan pengalaman batin yang intens ketika seseorang berhadapan dengan desakan suara dari dalam dirinya sendiri. “Suara-suara” dalam puisi ini tidak hadir sebagai bunyi konkret semata, melainkan sebagai getaran psikis, kenangan, dan kegelisahan yang berulang-ulang muncul dari “rahim malam”. Puisi ini bergerak dalam ruang kesadaran yang sunyi, gelap, namun penuh tekanan emosional.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pergumulan batin dan suara kesadaran manusia. Puisi ini juga menyentuh tema kegelisahan eksistensial serta ketidakmampuan manusia sepenuhnya mengungkapkan isi batinnya melalui bahasa.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terus-menerus diganggu oleh “suara-suara” yang bangkit dari rahim malam. Suara-suara tersebut menjelma duka, lengkingan, dan belantara yang menyesakkan. Penyair berusaha menangkap dan memeluknya, tetapi justru luluh, terbakar, dan tak sanggup menuangkannya menjadi aksara yang tertulis.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kenyataan bahwa batin manusia menyimpan banyak kegelisahan yang sulit diartikulasikan. Suara-suara tersebut dapat dimaknai sebagai suara nurani, ingatan traumatik, atau dorongan kreatif yang terus mendesak, namun tak pernah sepenuhnya dapat dijinakkan oleh bahasa. Puisi ini menyiratkan keterbatasan kata dalam menampung kompleksitas perasaan manusia.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana muram, intens, dan mencekam. Nuansa malam, lengkingan, serta nyala api menghadirkan perasaan gelisah dan tertekan, seolah penyair terperangkap dalam pusaran batin yang tak kunjung reda.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditarik adalah ajakan untuk menyadari dan berdamai dengan suara batin, meskipun tidak semuanya bisa diungkapkan secara sempurna. Puisi ini mengingatkan bahwa keheningan dan kegelisahan merupakan bagian dari proses memahami diri.
Puisi "Suara-Suara" karya Mochtar Pabottingi merupakan penggambaran puitis tentang dialog sunyi manusia dengan dirinya sendiri. Dengan bahasa simbolik dan imaji gelap, puisi ini memperlihatkan betapa suara batin dapat menjadi sumber kegelisahan sekaligus daya kreatif yang tak pernah benar-benar bisa dibungkam.
Karya: Mochtar Pabottingi
Biodata Mochtar Pabottingi:
- Mochtar Pabottingi lahir pada tanggal 17 Juli 1945 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
