Sunan Biru
sunan baju biru
berjalan-jalan sampai kuning
dia berhenti di stanplat bis
kotamadya semarang
di bawah patung burung
sunan mata biru
berdarah kuning dan matanya
dibiarkannya meraba-raba
sampai jakarta
dan dia pensiun
di bawah jembatan semanggi
sunan bersandal jepit
berniat mengendorkan syarafnya yang coklat
dia tiarap di puncak monas
sambil dipijit gadis
dan diurut janda
sekali diurut sunan terpejam
duakali dipijat sunan terperanjat
tigakali diinjak sunan bergumam
empatkali dibetot sunan copot
sunan mati empatkali
jubahnya yang biru
luntur jadi kuning
semarang mengerang
bajingang
1983
Sumber: Horison (Maret, 1984)
Analisis Puisi:
Puisi "Sunan Biru" karya F. Rahardi adalah sebuah karya yang penuh dengan imajinasi, simbolisme, dan metafora, menghadirkan gambaran yang kaya akan warna, perjalanan, dan kejadian yang mencolok. Melalui penggunaan bahasa yang kaya, penyair menciptakan suasana misterius dan mengundang pembaca untuk merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.
Simbolisme Sunan Biru: Sunan Biru merupakan tokoh sentral dalam puisi ini, yang digambarkan sebagai sosok yang misterius dan memiliki kekuatan yang tidak biasa. Warna biru yang melingkupi Sunan menjadi simbol kekuatan spiritual dan keberanian, sementara perjalanan dan pengalaman yang dialaminya merefleksikan perjalanan manusia dalam mencari makna kehidupan.
Perjalanan dan Transformasi: Sunan Biru mengalami perjalanan yang penuh dengan peristiwa dan pengalaman yang mengubahnya secara fisik dan spiritual. Dari Semarang hingga Jakarta, dari bawah patung burung hingga di bawah jembatan Semanggi, Sunan mengalami transformasi yang mencerminkan perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan dan pengetahuan.
Metafora dan Imajinasi: Puisi ini menggunakan banyak metafora dan imajinasi untuk menggambarkan kehidupan Sunan Biru dan pengalamannya. Patung burung, jembatan Semanggi, Monas, dan sepatu jepit adalah simbol-simbol yang menyiratkan perjalanan spiritual dan fisik yang dialami Sunan Biru.
Kematian dan Perubahan: Kematian Sunan Biru, yang digambarkan sebagai mati empat kali, menggambarkan siklus kehidupan dan perubahan yang dialami oleh setiap individu. Warna jubah yang awalnya biru dan kemudian menjadi kuning mencerminkan perubahan alamiah dan siklus kehidupan yang tak terelakkan.
Kritik Sosial: Puisi ini juga mencakup elemen kritik sosial terhadap kondisi di Semarang, yang digambarkan sebagai "semarang mengerang" dengan kata-kata "bajingang". Hal ini mungkin mencerminkan ketidakpuasan penyair terhadap situasi sosial dan politik di kota tersebut.
Puisi "Sunan Biru" adalah sebuah karya yang sarat dengan simbolisme, imajinasi, dan makna yang dalam. Melalui perjalanan Sunan Biru, penyair menggambarkan perjalanan manusia dalam mencari makna hidup, menghadapi perubahan, dan mengalami transformasi spiritual. Dengan bahasa yang kaya dan gambaran yang kuat, puisi ini mengundang pembaca untuk merenungkan makna kehidupan dan perjalanan manusia dalam menjelajahi dunia ini.
