1986
Sumber: Jalan Menuju Rumahmu (2004)
Analisis Puisi:
Puisi "Sungai Pasig" karya Acep Zamzam Noor menampilkan Sungai Pasig bukan sekadar sebagai bentang alam, melainkan sebagai metafora sejarah, luka sosial, dan nasib manusia. Sungai menjadi saksi bisu pengkhianatan, kemiskinan, dan kecemasan yang terus mengalir dari waktu ke waktu. Dengan bahasa yang keras dan getir, puisi ini menghadirkan refleksi mendalam tentang manusia yang terhanyut dalam arus sejarah yang tidak selalu adil.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pengkhianatan sejarah, kemiskinan, dan keterasingan manusia dalam arus kehidupan sosial. Sungai Pasig menjadi simbol perjalanan waktu yang membawa luka kolektif dan krisis kemanusiaan.
Puisi ini bercerita tentang pertemuan manusia di tengah panas yang menyengat, di tepi Sungai Pasig yang telah berubah cokelat oleh “khianat”. Perahu-perahu besi melintas tanpa janji, sementara manusia menyadari kemiskinan nasib masing-masing. Dalam perjalanan itu, mereka hanyut seperti sampah, terus berenang menempuh kecemasan tanpa kepastian arah.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan kritik sosial yang tajam: manusia sering menjadi korban sekaligus pelaku pengkhianatan sejarah. Sungai yang mengalirkan sampah melambangkan waktu yang membawa sisa-sisa luka, ketidakadilan, dan kegagalan moral. Manusia digambarkan kehilangan kendali, terombang-ambing dalam sistem yang menindas dan tak berpihak.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa panas, sunyi, dan mencekam. Ada ketegangan batin yang kuat, bercampur kegetiran dan kelelahan eksistensial, seolah hidup dijalani dalam keadaan darurat yang tak pernah benar-benar usai.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyiratkan amanat agar manusia menyadari posisi dan tanggung jawabnya dalam sejarah. Pengkhianatan, ketidakpedulian, dan pembiaran terhadap ketidakadilan akan menyeret semua pihak dalam arus kehancuran bersama, seperti sampah yang hanyut di sungai.
Puisi "Sungai Pasig" adalah puisi elegi sosial yang getir dan reflektif. Acep Zamzam Noor menghadirkan sungai sebagai cermin peradaban: tempat luka-luka lama disentuh kembali, dan manusia dipaksa bercermin pada kenyataan pahit tentang nasib, sejarah, dan pengkhianatan yang terus diwariskan dari satu zaman ke zaman berikutnya.
Biodata Acep Zamzam Noor:
- Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
- Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
