Analisis Puisi:
Puisi “Tahun Baru Masehi” merupakan puisi sangat singkat, namun tajam secara makna. Dengan hanya beberapa baris, Zeffry J. Alkatiri menghadirkan ironi yang kuat antara perayaan, kegembiraan, dan bayang-bayang kematian. Kesederhanaan bentuk justru memperbesar daya guncang maknanya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ironi kehidupan dan kesadaran akan kematian di tengah perayaan. Tahun baru yang identik dengan harapan dan sukacita dipertemukan dengan figur Malaikat Izrofil, simbol kematian dalam tradisi Islam.
Puisi ini bercerita tentang sebuah harapan yang diucapkan secara sederhana namun mengandung kegelisahan: semoga Malaikat Izrofil tidak ikut merayakan tahun baru. Penyair membayangkan betapa mengerikannya jika sang malaikat kematian turut “meniup terompet”, yang secara simbolik dapat dimaknai sebagai akhir kehidupan, bukan awal yang dirayakan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik halus terhadap euforia perayaan tahun baru yang sering melupakan kefanaan hidup. Di balik pesta dan kembang api, selalu ada kemungkinan ajal. Puisi ini mengingatkan bahwa pergantian tahun bukan sekadar soal waktu yang maju, tetapi juga pengurangan jatah hidup manusia.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa ironis dan getir. Ada kesan ringan di permukaan, namun menyimpan ketegangan eksistensial yang membuat pembaca terdiam dan merenung.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk merayakan hidup dengan kesadaran, bukan sekadar hura-hura. Tahun baru seharusnya menjadi momen refleksi atas hidup dan kematian, bukan hanya pesta tanpa makna.
Puisi “Tahun Baru Masehi” adalah puisi mini yang efektif dan menggigit. Zeffry J. Alkatiri menunjukkan bahwa dengan sedikit kata, puisi dapat mengguncang kesadaran: setiap perayaan kehidupan selalu berjalan berdampingan dengan kemungkinan kematian.