Sumber: Montase (2016)
Analisis Puisi:
Puisi "Taman Fatahilah" karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi naratif-reflektif yang menjadikan ruang kota sebagai medan perenungan sejarah, identitas, dan kerinduan personal. Taman Fatahilah tidak hanya hadir sebagai lokasi geografis di Kota Tua Jakarta, melainkan juga sebagai ruang batin tempat masa silam, masa kini, dan kegelisahan diri saling bertaut.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian identitas di tengah sejarah dan ingatan kolektif. Penyair menempatkan dirinya di antara lapisan-lapisan sejarah kolonial, budaya, dan kemanusiaan, sekaligus mempertanyakan posisi dirinya sendiri dalam arus waktu yang panjang.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang berada di Taman Fatahilah, menyerap suara, manusia, dan jejak sejarah yang melekat di ruang tersebut. Dari gema adzan di bangunan kolonial, kisah darah dan penjajahan, hingga perjumpaan dengan pengamen, veteran, pengemis, dan pedagang kopi, penyair mengalami dialog antara sejarah besar dan kehidupan sehari-hari. Di tengah keramaian itu, ia juga mencari “kekasih” dan, lebih jauh, mencari jati dirinya sendiri.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa identitas manusia modern—khususnya di kota besar seperti Jakarta—tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kolonialisme, migrasi, dan percampuran budaya. Penolakan penyair terhadap label etnis dan sejarah tertentu (“aku bukan Portugis, bukan Belanda…”) menegaskan kegelisahan tentang identitas yang terfragmentasi. Ia memilih melihat dirinya sebagai “semesta kecil”, makhluk yang memuat banyak lapisan pengalaman dan ingatan.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi bergerak dinamis: dari khidmat dan historis, menuju muram dan ngilu, lalu beralih menjadi intim dan kontemplatif. Ada kesan riuh kota, getir sejarah, sekaligus hening batin saat penyair bercengkerama dengan bayangannya sendiri.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari bahwa manusia hidup di atas sejarah yang berdarah dan kompleks, namun tetap memiliki ruang untuk merajut kemanusiaan dan harapan. Kesadaran akan sejarah tidak harus membelenggu identitas, melainkan bisa menjadi jalan menuju pemahaman diri yang lebih luas dan inklusif.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, seperti “aku semesta kecil” yang melambangkan kompleksitas identitas diri.
- Personifikasi, pada ungkapan “taman ini telah berjanji” dan “senja tak lagi kehilangan arah”.
Puisi "Taman Fatahilah" adalah puisi yang kuat secara historis sekaligus personal. Wayan Jengki Sunarta berhasil mengolah ruang kota menjadi medan refleksi tentang sejarah, cinta, dan pencarian jati diri. Puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa di tengah hiruk-pikuk kota dan beban masa silam, manusia tetap memiliki kemungkinan untuk melebur, memahami, dan menemukan makna hidup seluas semesta.
Karya: Wayan Jengki Sunarta
Biodata Wayan Jengki Sunarta:
- Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
