Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Taman Ketabang (Karya F. Aziz Manna)

Puisi “Taman Ketabang” bercerita tentang dua orang yang duduk bercakap-cakap di Taman Ketabang. Mereka membicarakan hari-hari yang telah lewat, ...
Taman Ketabang

di taman ketabang, kita bercakap tentang hari-hari yang lewat
sementara orang-orang di sekitar semakin erat berpelukan atau
khusyu’ mananti kambangan kail bergerak digondol ikan, kita
mengurai waktu di antara orang-orang yang berusaha keras
menangkap waktu, mengabadikannya dalam kekinian, kita
melompat dari kemarin ke kemarinnya lagi, mengeker-eker
kubang kenangan, ada jam dimana kita bertengkar tentang
cat rumah yang nampak muram, ada juga detik ketika kita saling
tersenyum membayangkan anak-anak kita tumbuh menjadi
orang-orang berdasi dan bekursi, namun sebelum tuntas
segala yang melintas di atas kepala dan percakapan kita, kau
tiba-tiba berkata: meski banyak orang dan pohonan di taman
ini, meski banyak impian dan harapan berlompatan, namun
entah mengapa aku merasa sendiri, sepi dan sunyi, kau tahu,
cuaca di tempatku, beberapa waktu ini dilikut kabut, seperti
hatiku, beberapa cermin yang terpasang di kamar enggan
memantulkan bayangan, bahkan, kertas-kertas yang biasa
kutulisi puisi, lembab, tak mau terbuka lagi, seperti pikiranku,
sampaikan maafku pada anakmu ketika ia memejamkan mata,
atas malam-malam panjang yang hilang darinya, karena kau
sedang mendendang kidung tidur buatku, tapi percayalah, tiap
linang air mataku adalah sebuah rindu padamu, meski aku tahu,
aku telah kehilanganmu sejak awal pertemuan

Sumber: Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang (2010)

Analisis Puisi:

Puisi “Taman Ketabang” menghadirkan fragmen percakapan yang tampak sederhana, namun perlahan berubah menjadi pengakuan batin yang mendalam. Dengan latar ruang publik—sebuah taman—penyair mengajak pembaca menyusuri ingatan, harapan, dan kehilangan yang tak terucap. Puisi ini bergerak dari kebersamaan menuju kesepian, dari kenangan bersama menuju kesadaran akan kehilangan yang telah terjadi sejak awal.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan, keterasingan emosional, dan kehilangan dalam relasi manusia. Puisi menyoroti bagaimana kebersamaan tidak selalu mampu menghapus rasa sepi, serta bagaimana masa lalu dan harapan masa depan kerap bertabrakan dengan kenyataan batin yang rapuh.

Puisi ini bercerita tentang dua orang yang duduk bercakap-cakap di Taman Ketabang. Mereka membicarakan hari-hari yang telah lewat, pertengkaran kecil, senyum, serta bayangan masa depan tentang anak-anak yang tumbuh dewasa. Di tengah keramaian taman—orang-orang yang berpelukan, memancing, dan mengejar waktu—percakapan itu justru melompat-lompat dalam kenangan. Namun suasana berubah ketika “kau” mengungkapkan rasa sepi, merasa sendiri, dan terperangkap dalam kabut batin. Di akhir puisi, terkuak pengakuan paling getir: kehilangan itu ternyata telah ada sejak pertemuan pertama.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kehilangan tidak selalu datang setelah perpisahan. Ada hubungan yang sejak awal telah menyimpan jarak batin. Taman sebagai ruang terbuka yang ramai justru menegaskan kesendirian tokoh “kau”. Kabut, cermin yang tak memantulkan bayangan, dan kertas puisi yang lembab menjadi simbol kebuntuan batin, depresi emosional, dan ketidakmampuan mengungkapkan diri secara utuh.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi bergerak dari hangat dan nostalgis menuju muram dan melankolis. Percakapan ringan tentang kenangan dan masa depan perlahan digantikan oleh suasana sunyi, sepi, dan perasaan kehilangan yang tak terhindarkan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini mengingatkan bahwa kehadiran fisik dan kebersamaan tidak selalu berarti keterhubungan batin. Puisi juga menyiratkan pentingnya kejujuran perasaan, meskipun kebenaran itu pahit: mencintai tidak selalu berarti memiliki, dan kehilangan bisa terjadi bahkan sebelum hubungan benar-benar dimulai.

Puisi “Taman Ketabang” adalah puisi reflektif yang kuat secara emosional. F. Aziz Manna berhasil menjadikan percakapan sehari-hari sebagai pintu masuk menuju pengakuan batin yang sunyi dan menyakitkan. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan ulang makna kebersamaan, cinta, dan kehilangan—bahwa terkadang, yang paling hilang bukan orangnya, melainkan harapan sejak awal perjumpaan.

F. Aziz Manna
Puisi: Taman Ketabang
Karya: F. Aziz Manna

Biodata F. Aziz Manna:
  • F. Aziz Manna lahir pada tanggal 8 Desember 1978 di Sidoarjo, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.