Analisis Puisi:
Puisi “Taman Ketabang” menghadirkan fragmen percakapan yang tampak sederhana, namun perlahan berubah menjadi pengakuan batin yang mendalam. Dengan latar ruang publik—sebuah taman—penyair mengajak pembaca menyusuri ingatan, harapan, dan kehilangan yang tak terucap. Puisi ini bergerak dari kebersamaan menuju kesepian, dari kenangan bersama menuju kesadaran akan kehilangan yang telah terjadi sejak awal.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kenangan, keterasingan emosional, dan kehilangan dalam relasi manusia. Puisi menyoroti bagaimana kebersamaan tidak selalu mampu menghapus rasa sepi, serta bagaimana masa lalu dan harapan masa depan kerap bertabrakan dengan kenyataan batin yang rapuh.
Puisi ini bercerita tentang dua orang yang duduk bercakap-cakap di Taman Ketabang. Mereka membicarakan hari-hari yang telah lewat, pertengkaran kecil, senyum, serta bayangan masa depan tentang anak-anak yang tumbuh dewasa. Di tengah keramaian taman—orang-orang yang berpelukan, memancing, dan mengejar waktu—percakapan itu justru melompat-lompat dalam kenangan. Namun suasana berubah ketika “kau” mengungkapkan rasa sepi, merasa sendiri, dan terperangkap dalam kabut batin. Di akhir puisi, terkuak pengakuan paling getir: kehilangan itu ternyata telah ada sejak pertemuan pertama.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kehilangan tidak selalu datang setelah perpisahan. Ada hubungan yang sejak awal telah menyimpan jarak batin. Taman sebagai ruang terbuka yang ramai justru menegaskan kesendirian tokoh “kau”. Kabut, cermin yang tak memantulkan bayangan, dan kertas puisi yang lembab menjadi simbol kebuntuan batin, depresi emosional, dan ketidakmampuan mengungkapkan diri secara utuh.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi bergerak dari hangat dan nostalgis menuju muram dan melankolis. Percakapan ringan tentang kenangan dan masa depan perlahan digantikan oleh suasana sunyi, sepi, dan perasaan kehilangan yang tak terhindarkan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini mengingatkan bahwa kehadiran fisik dan kebersamaan tidak selalu berarti keterhubungan batin. Puisi juga menyiratkan pentingnya kejujuran perasaan, meskipun kebenaran itu pahit: mencintai tidak selalu berarti memiliki, dan kehilangan bisa terjadi bahkan sebelum hubungan benar-benar dimulai.
Puisi “Taman Ketabang” adalah puisi reflektif yang kuat secara emosional. F. Aziz Manna berhasil menjadikan percakapan sehari-hari sebagai pintu masuk menuju pengakuan batin yang sunyi dan menyakitkan. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan ulang makna kebersamaan, cinta, dan kehilangan—bahwa terkadang, yang paling hilang bukan orangnya, melainkan harapan sejak awal perjumpaan.