Puisi: Tamasya (Karya Soni Farid Maulana)

Puisi "Tamasya" karya Soni Farid Maulana adalah karya sastra yang menggambarkan perjalanan atau tamasya seorang individu di tepi pantai Laut ....
Tamasya

di pantai laut merah di tepi kota Jeddah
tak kutemukan jejak musa selain deretan cafe
dan wajah para pelancong yang lelah
yang datang dari negeri jauh, yang menyandarkan
tubuhnya di kursi kayu, melepas pandang matanya
ke luas biru laut bertilam lembut angin panas
dengan ombak yang tenang

pemandangan seperti ini pernah aku lihat
dalam sebuah lukisan di sebuah galeri kota paris
ketika musim dingin menggigilkan daging dan tulang
dan kau tak ada di sampingku. Hanya pekik burung
yang aku dengar sore itu, sebagaimana aku dengar
siang ini di tepi pantai laut merah di tepi kota Jeddah
dan kau tak ada di sampingku

kini aku terperangah mendapatkan kaligrafi usiaku
memutih di tujuh helai rambutku, yang disingkap
lembut angin laut musim panas. "Yang Maha Hakim
jangan sampai hamba karam ke dasar palung hitam
bagai fir'aun, yang lalai mengingat-Mu," suara itu
aku dengar di tempat ini, bikin ruhku gemetar,
o menggelepar, layak seekor ikan di paruh
burung itu. Di paruh burung itu

2008

Sumber: Peneguk Sunyi (2009)

Analisis Puisi:

Puisi "Tamasya" karya Soni Farid Maulana adalah karya sastra yang menggambarkan perjalanan atau tamasya seorang individu di tepi pantai Laut Merah, tepatnya di tepi kota Jeddah. Puisi ini menciptakan gambaran atmosfer yang menarik dari perjalanan tersebut, menggabungkan elemen alam, kesendirian, dan refleksi pribadi.

Lokasi dan Latar Tempat: Puisi ini menggambarkan lokasi perjalanan di tepi pantai Laut Merah di kota Jeddah. Penyair menggunakan deskripsi pantai, cafe-cafe, dan wajah-wajah para pelancong lelah sebagai latar tempat perjalanan. Deskripsi ini memberikan gambaran tentang suasana dan lingkungan perjalanan.

Penggunaan Paris sebagai Perbandingan: Penyair menggunakan perbandingan dengan Paris untuk menggambarkan perasaan kehilangan dan kesendirian. Lukisan di galeri kota Paris yang diingatnya menghadirkan kesan romantis dan indah, sementara di tengah keadaan musim dingin yang dingin dan kesepian. Perbandingan ini mencerminkan kerinduannya akan kehadiran seseorang yang dicintainya.

Elemen Alam dan Keindahan: Puisi ini menghadirkan elemen alam yang kuat, seperti lautan, angin panas, dan ombak yang tenang. Penggambaran ini menciptakan suasana yang indah dan menenangkan di tepi pantai. Selain itu, penampilan burung yang menggelepar memberikan sentuhan alami pada puisi.

Refleksi Pribadi: Penyair menyampaikan refleksi pribadi tentang takdir dan usia. Penggunaan kaligrafi usia yang memutih dan perbandingannya dengan Fir'aun mencerminkan kesadaran akan masa depan dan harapan agar tidak lupa pada Tuhan dalam hidupnya.

Suara dan Efek Suasana: Penyair menghadirkan suara-suara alam seperti pekik burung dan suara kaligrafi usia, menciptakan efek suara yang menggugah emosi. Suara-suara ini memberikan kedalaman dan kompleksitas pada puisi, dan mungkin juga mencerminkan suara batin dan perasaan yang berkecamuk dalam hati penyair.

Puisi "Tamasya" karya Soni Farid Maulana adalah karya sastra yang menarik karena menggambarkan perjalanan di tepi pantai Laut Merah dengan sentuhan alam, kesendirian, dan refleksi pribadi. Deskripsi atmosfer dan lokasi yang kuat menciptakan gambaran visual dan emosi yang kuat bagi pembaca. Penggunaan perbandingan dengan Paris dan refleksi tentang takdir dan usia memberikan dimensi puitis dan mendalam pada puisi. Dalam keseluruhan puisi, pembaca dihadapkan pada suasana yang mencerminkan keindahan alam dan kompleksitas perasaan pribadi, yang membuat puisi ini menjadi karya sastra yang menarik untuk dinikmati dan diresapi.

Soni Farid Maulana
Puisi: Tamasya
Karya: Soni Farid Maulana

Biodata Soni Farid Maulana:
  • Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
  • Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.