Puisi: Tanah Garam (Karya Mahwi Air Tawar)

Puisi "Tanah Garam" karya Mahwi Air Tawar menghadirkan potret ruang dan kehidupan masyarakat pesisir Madura dengan bahasa yang lirih dan simbolik.

Tanah Garam

Ini jalan kutempuh berulang
Antara tana merah, retakan kemarau
Dan Madura terus mendesah
Sambil menabur bulir-bulir garam
Di selat pelabuhan karapan
Di sepetak tana impian
Orang-orang kampung terkurung

Kujinjing rinjing penuh garam
Hingga ujung selat
Kureguk air laut yang payau
Kutunggangi sampanmu hingga tepi

Di seberang anak-anak tembakau
Mendera pilu, nyanyian sumbang mengantar
Perahumu yang berayun tanpa jangkar!

Sumber: Tanéyan (PT Komodo Books, 2015)

Analisis Puisi:

Puisi "Tanah Garam" karya Mahwi Air Tawar menghadirkan potret ruang dan kehidupan masyarakat pesisir Madura dengan bahasa yang lirih dan simbolik. Melalui citraan tanah, garam, laut, dan perahu, penyair merekam pengalaman kolektif tentang kerja, harapan, dan keterkungkungan nasib yang terus berulang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan masyarakat pesisir dan pergulatan nasib di tanah yang keras. Garam menjadi simbol kerja, ketabahan, sekaligus keterbatasan hidup.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan seseorang yang berulang kali menempuh jalan di tanah Madura—melewati tanah merah yang retak oleh kemarau, memanggul rinjing berisi garam, dan menyeberangi selat dengan sampan. Perjalanan itu bukan sekadar fisik, melainkan gambaran rutinitas hidup masyarakat kampung yang terkurung oleh kondisi alam dan ekonomi.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik halus terhadap nasib struktural masyarakat pesisir yang bekerja keras namun tetap berada dalam keterbatasan. Garam yang dihasilkan dari tanah dan laut menjadi penanda kerja berat yang tak selalu berujung pada kesejahteraan, sementara perahu “tanpa jangkar” menyiratkan hidup yang tak memiliki kepastian arah.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sendu dan getir. Desahan Madura, pilu anak-anak tembakau, dan nyanyian sumbang membangun atmosfer kepedihan yang tenang namun terus mengendap.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk melihat dan memahami kehidupan masyarakat pinggiran dengan empati. Pembaca diajak menyadari bahwa di balik garam yang sederhana, terdapat kerja keras, luka, dan harapan yang sering terabaikan.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan imaji rasa. Imaji visual tampak pada “tana merah, retakan kemarau”, “bulir-bulir garam”, dan “perahumu yang berayun”. Imaji rasa muncul melalui “air laut yang payau”, menghadirkan sensasi getir yang sejalan dengan kehidupan yang digambarkan.

Majas

Puisi ini menggunakan majas metafora dan personifikasi. Personifikasi terlihat pada “Madura terus mendesah”, sementara metafora hadir pada “tana garam” sebagai lambang kehidupan keras yang menjadi sumber sekaligus batas harapan.

Puisi "Tanah Garam" adalah puisi yang kuat secara sosial dan kultural. Mahwi Air Tawar berhasil mengabadikan realitas masyarakat Madura dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, menjadikan garam bukan hanya hasil bumi, tetapi simbol ketabahan dan pilu yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mahwi Air Tawar
Puisi: Tanah Garam
Karya: Mahwi Air Tawar

Biodata  Mahwi Air Tawar:
  •  Mahwi Air Tawar lahir pada tanggal 28 Oktober 1983 di Pesisir Sumenep, Madura.
© Sepenuhnya. All rights reserved.