Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Tanda-Tanda Zaman (Karya Ediruslan PE Amanriza)

Puisi “Tanda-Tanda Zaman” karya Ediruslan PE Amanriza adalah kritik tajam terhadap elite atau penguasa yang memanipulasi masyarakat melalui bahasa, ..
Tanda-Tanda Zaman

Aku mengajak kalian
Membaca keadaan
Dan memahami tanda-tanda zaman

Di sini gelap dunia kita yang muram
segenap yang bernama kebaikan
jadi mustahil disebut kemuliaan

Ketahuilah
para tukang sihir
ada di setiap masa
dengan mantra dan kata-kata
mereka kuasai pikiran
dan keberanian kita

Tongkat-tongkat mereka
tak cuma jadi ular
seperti di zaman Musa

Tongkat-tongkat
para tukang sihir
dapat menjelma
berubah-ubah jadi apa saja
melahap siapa saja

Para tukang sihir
menguasai ilmu lebih tinggi dari Sulaiman
mereka ternakkan jin dan tuyul
jadi induk kolong Sijundai dan
pelesit
mereka ramu santau dan racun
mereka siapkan gayung-tuju dan tinggam
untuk mengawal kekayaan
harta benda sementara Nusantara

Kini mereka lebih kaya dari Karun
lebih pongah dari Nasuha
lebih kuat dari Daud
lebih takabur dari Fir'aun
tapi ramah seperti Zulaikha

Aku mengajak kalian
membaca keadaan
dan mengarifi tanda-tanda zaman

Ketahuilah
para tukang sihir
ada di setiap masa
mereka kuasai pikiran dan keberanian kita
dengan mantra dan kata-kata


Riau, 1996

Analisis Puisi:

Puisi “Tanda-Tanda Zaman” karya Ediruslan PE Amanriza merupakan sajak reflektif sekaligus kritis yang mengajak pembaca untuk membaca realitas sosial secara jernih. Puisi ini tidak sekadar menjadi ekspresi kegelisahan personal, tetapi tampil sebagai seruan moral agar manusia sadar terhadap kekuatan-kekuatan tak kasatmata yang mengendalikan zaman melalui bahasa, kekuasaan, dan manipulasi kesadaran.

Tema

Tema utama puisi ini adalah dekadensi moral dan manipulasi kekuasaan di setiap zaman. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema penyesatan akal dan keberanian manusia, serta bahaya kekuasaan yang dibungkus oleh retorika dan citra kebaikan.

Puisi ini bercerita tentang ajakan penyair kepada “kalian” untuk membaca keadaan dunia yang gelap dan muram. Dunia digambarkan telah kehilangan makna kemuliaan, karena kebaikan justru menjadi sesuatu yang mustahil. Penyair menyoroti kehadiran “para tukang sihir” yang selalu ada di setiap masa—bukan sebagai sosok mistis semata, melainkan simbol kekuatan yang menguasai pikiran dan keberanian manusia melalui kata-kata, mantra, dan strategi kekuasaan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik tajam terhadap elite atau penguasa yang memanipulasi masyarakat melalui bahasa, ideologi, dan citra religius atau moral. “Tukang sihir” menjadi simbol dari mereka yang mampu mengubah keburukan menjadi seolah-olah kebaikan, menelan siapa saja, dan menguasai kekayaan tanpa memedulikan nilai kemanusiaan. Rujukan tokoh-tokoh religius seperti Musa, Sulaiman, Daud, hingga Fir’aun memperkuat pesan bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan akan melahirkan keangkuhan dan kehancuran.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini suram, mengancam, dan penuh peringatan. Ada rasa gelisah dan waspada yang kuat, seolah puisi ini menjadi alarm moral bagi pembaca agar tidak terbuai oleh ramahnya wajah kekuasaan yang sebenarnya menindas.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk berpikir kritis, tidak mudah terpengaruh oleh retorika dan simbol kekuasaan, serta berani menjaga akal dan keberanian dari penyesatan. Penyair menegaskan bahwa memahami tanda-tanda zaman adalah tanggung jawab moral agar manusia tidak menjadi korban manipulasi.

Puisi “Tanda-Tanda Zaman” adalah puisi kritik sosial-religius yang kuat dan bernada peringatan. Ediruslan PE Amanriza menempatkan puisi sebagai medium kesadaran, mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat zaman dari permukaannya, tetapi juga memahami kekuatan tersembunyi yang mengendalikan arah pikiran dan keberanian manusia. Puisi ini relevan dibaca sebagai refleksi atas realitas kekuasaan di masa apa pun.

Ediruslan PE Amanriza
Puisi: Tanda-Tanda Zaman
Karya: Ediruslan PE Amanriza

Biodata Ediruslan PE Amanriza:
  • Ediruslan PE Amanriza lahir pada tanggal 17 Agustus 1947 di Bagan-siapiapi, Riau.
  • Ediruslan PE Amanriza meninggal dunia pada tanggal tanggal 3 Oktober 2001.
  • Ediruslan PE Amanriza adalah salah satu penulis puisi, cerita pendek, novel, dan esai sastra.
© Sepenuhnya. All rights reserved.