Analisis Puisi:
Puisi “Telepon” karya Gunoto Saparie menampilkan peristiwa sederhana—dering telepon di tengah malam—sebagai pemicu kegelisahan batin yang lebih dalam. Dengan larik-larik pendek dan hemat kata, puisi ini mengolah kejadian remeh menjadi pengalaman eksistensial yang sarat makna. Kehadiran nama “Nietzsche” secara tiba-tiba memperluas ruang tafsir puisi, dari sekadar kejutan malam hari menjadi gangguan pikiran dan kesadaran.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kegelisahan eksistensial dan gangguan kesadaran. Telepon tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan simbol interupsi mendadak terhadap ketenangan batin, yang membawa keresahan dan pertanyaan tentang makna, pikiran, dan identitas.
Tema lain yang muncul adalah ketakutan terhadap sesuatu yang tak dikenal dan efek pikiran asing yang masuk secara tiba-tiba ke dalam diri seseorang.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terbangun oleh dering telepon tengah malam. Dengan roh yang gemetar, ia bertanya-tanya siapa yang menelepon. Suara di seberang mengaku sebagai “Nietzsche”, lalu sambungan telepon terputus begitu saja.
Peristiwa singkat ini menimbulkan kecemasan berkepanjangan. Penyair merasa tidurnya diganggu dan pikirannya diracuni, meskipun penelepon itu sudah menghilang.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bagaimana gagasan atau pikiran—terutama yang bersifat radikal dan mengguncang—dapat mengusik ketenangan batin seseorang, bahkan tanpa penjelasan atau dialog yang utuh. Nama “Nietzsche” dapat dimaknai sebagai simbol filsafat yang mempertanyakan nilai-nilai mapan, Tuhan, dan moralitas, sehingga kehadirannya menimbulkan kegelisahan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa ketakutan manusia sering kali bukan berasal dari peristiwa itu sendiri, melainkan dari dampak psikologis yang ditinggalkan setelahnya.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa tegang dan mencekam. Ketegangan muncul dari waktu kejadian (tengah malam), kejutan dering telepon, serta sambungan yang terputus mendadak. Rasa cemas dan tidak nyaman terus membayangi hingga akhir puisi.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari betapa rapuhnya ketenangan batin manusia. Pikiran, ide, atau gangguan kecil sekalipun bisa mengguncang kesadaran jika tidak disikapi dengan kewaspadaan dan kejernihan.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa tidak semua interupsi harus diterima begitu saja; ada kalanya manusia perlu menjaga jarak dari pikiran yang meracuni ketenteraman batin.
Puisi “Telepon” karya Gunoto Saparie menunjukkan bagaimana peristiwa kecil dapat membuka kegelisahan besar dalam diri manusia. Dengan bahasa yang ringkas dan sugestif, puisi ini menyoroti betapa mudahnya kesadaran terganggu oleh suara asing dan ide-ide yang datang tanpa diundang. Dalam kesenyapan malam, satu dering telepon cukup untuk menggoyahkan ketenangan batin dan meninggalkan jejak kecemasan yang tak segera sirna.
Karya: Gunoto Saparie
BIODATA GUNOTO SAPARIE
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain. Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.
Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta).
Selain di bidang pers, ia pernah bekerja di bidang pendidikan, yaitu guru di SMP Yasbumi Cepiring, SMP PGRI Patebon, SMP Muhammadiyah Kendal, dan SMA Al-Farabi Pegandon. Ia pernah pula bekerja di CV Sido Luhur Kendal dan PT Aryacipta Adibrata Semarang.
Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
Gunoto Saparie juga sering diundang sebagai pembicara dalam kongres, simposium, dan seminar kesastraan. Ia pun sering membaca puisi di berbagai tempat dan juri lomba literasi yang diadakan lembaga pemerintah maupun swasta.