Tentang Makna
Sungguh rugi serugi kehilangan isi dunia
Pabila engkau bersua seorang Aulia
Tanpa memberi salam
Lebih rugi serugi kerugian semua
Pabila engkau berjumpa seorang Aulia
Tanpa mengantungi
Butiran kata-katanya
Ucapan seorang Aulia
Bagaikan lingkaran pelangi
Lebih rugi lagi
Pabila kau bicara dengan dia
Dalam bahasa tinggi
Yang lebih tinggi dari atap dunia.
Setelah berpisah
Engkau akan gelisah dan resah
Karena yakin, batin jadi miskin
Air kau rasa panas, dan api
Kau sangka dingin
Dan rejeki
Kau kira kartu ceki
Sumber: Aura Para Aulia (1990)
Analisis Puisi:
Puisi "Tentang Makna" karya Motinggo Boesje merupakan puisi reflektif yang mengangkat persoalan makna perjumpaan manusia dengan sosok arif atau bijaksana. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat peringatan, penyair mengajak pembaca untuk menimbang kembali sikap, bahasa, dan kesiapan batin ketika berhadapan dengan kebijaksanaan. Puisi ini terasa seperti nasihat spiritual yang disampaikan secara puitik.
Tema
Tema puisi ini adalah kerugian batin akibat kegagalan memahami makna kebijaksanaan. Perjumpaan dengan seorang “Aulia” diposisikan sebagai momen penting yang dapat memperkaya jiwa, namun justru menjadi sia-sia apabila tidak disikapi dengan kerendahan hati dan kesadaran.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bertemu dengan seorang Aulia—figur simbolik yang merepresentasikan orang arif, bijak, atau suci—namun tidak mampu menangkap makna dari perjumpaan tersebut. Ketidaksungguhan, kesombongan bahasa, dan kelalaian batin membuat pertemuan itu berujung pada kegelisahan dan kemiskinan batin.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menegaskan bahwa kebijaksanaan tidak dapat didekati dengan kesombongan intelektual atau bahasa yang “tinggi”. Justru, makna hanya bisa ditangkap oleh batin yang siap mendengar, menyimpan, dan merenungkan. Ketika kebijaksanaan diabaikan, terjadi pembalikan nilai: yang benar terasa salah, yang nyata menjadi semu, dan rezeki kehilangan hakikatnya.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana peringatan dan keprihatinan. Nada puisinya tenang namun tegas, seolah menasihati dengan nada prihatin terhadap kegagalan manusia membaca makna hidup.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya kerendahan hati dalam mencari makna hidup. Perjumpaan dengan orang bijak hendaknya disertai sikap hormat, kesiapan mendengar, dan kesediaan menyimpan pelajaran batin. Tanpa itu, manusia akan kehilangan arah dan mengalami kemiskinan jiwa.
Imaji
Puisi ini menggunakan imaji yang bersifat simbolik dan konseptual, antara lain:
- Imaji visual, pada “lingkaran pelangi” yang menggambarkan keindahan dan kesempurnaan ucapan seorang Aulia.
- Imaji rasa, pada pembalikan “air kau rasa panas, dan api kau sangka dingin”, yang menandakan kekacauan persepsi batin.
- Imaji sosial, pada “rejeki kau kira kartu ceki”, yang menyindir cara pandang dangkal terhadap makna rezeki.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Perumpamaan, pada larik “Ucapan seorang Aulia / Bagaikan lingkaran pelangi”.
- Hiperbola, pada ungkapan “rugi serugi kehilangan isi dunia” dan “bahasa tinggi yang lebih tinggi dari atap dunia”.
- Metafora, pada “batin jadi miskin” yang melukiskan kehampaan spiritual.
Puisi "Tentang Makna" karya Motinggo Boesje dapat dibaca sebagai cermin bagi pembaca untuk menilai kembali cara memaknai perjumpaan, bahasa, dan kebijaksanaan. Dengan gaya nasihat yang puitik, puisi ini mengingatkan bahwa makna sejati tidak terletak pada kepandaian berkata-kata, melainkan pada kesediaan batin untuk menerima dan memahami.
