Analisis Puisi:
Puisi “Terang Itu Masih Ada” karya Sam Haidy menghadirkan potret keteguhan batin manusia di tengah kekerasan sosial dan penghinaan. Dengan bahasa yang lugas dan narasi yang jelas, puisi ini mengangkat persoalan martabat, kesabaran, serta keyakinan akan harapan yang tidak pernah sepenuhnya padam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketabahan dan harapan di tengah penindasan. Puisi menyoroti kekuatan moral seseorang yang memilih tidak membalas kekerasan dengan kekerasan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami penghinaan, kekerasan fisik, dan penghakiman massa. Alih-alih melawan, tokoh tersebut memilih menutup kemaluannya sebagai simbol menjaga martabat, lalu bertahan dengan sikap tenang dan keyakinan akan datangnya terang.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kekerasan kolektif dan mentalitas menghakimi. Penyair menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada balas dendam, melainkan pada kemampuan menjaga kemanusiaan dan harapan, bahkan saat diperlakukan tidak adil.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi terasa tegang dan getir di bagian awal, lalu berangsur menjadi tenang dan penuh harap di bagian akhir. Pergeseran suasana ini menegaskan transformasi batin tokoh utama.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk tetap percaya pada kebaikan dan keadilan, meski berada dalam situasi yang menyakitkan. Kesabaran dan keyakinan akan terang menjadi jalan untuk bertahan tanpa kehilangan martabat.
Puisi “Terang Itu Masih Ada” karya Sam Haidy merupakan pernyataan puitik tentang daya tahan manusia. Di tengah penghinaan dan kekerasan, puisi ini menegaskan bahwa harapan tidak mudah dipadamkan, dan selama keyakinan pada terang masih ada, martabat manusia tetap terjaga.
Karya: Sam Haidy
