Analisis Puisi:
Puisi "Terbang dalam Gelap" karya Abrar Yusra menampilkan pengalaman perjalanan yang sederhana, tetapi sarat kegelisahan eksistensial. Pesawat, tiket, malam, dan kecemasan menjadi unsur utama yang menyusun puisi ini. Dalam larik-larik yang lugas, penyair menghadirkan perasaan manusia modern yang hidup di tengah ketidakpastian, pasrah pada sistem, dan dihantui rasa cemas akan nasibnya sendiri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketidakpastian hidup dan kecemasan manusia terhadap nasib. Puisi ini juga menyentuh tema kepasrahan, keterasingan, dan rapuhnya rasa aman manusia di hadapan kekuatan yang tak dikenalnya.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang melakukan perjalanan dengan pesawat pada malam hari. Ia hanya memiliki tiket dan mengetahui merek pesawat, tetapi tidak memiliki kepastian apa pun tentang keselamatannya. Hidupnya berada “di tangan tak kukenal”, sebuah ungkapan yang menegaskan keterasingan dan rasa tidak berdaya. Kerumunan penumpang, barang-barang pribadi, serta kenangan tentang istri yang ditinggalkan semakin memperkuat suasana cemas selama perjalanan itu.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini melampaui peristiwa terbang dengan pesawat. Penerbangan dalam gelap dapat dimaknai sebagai metafora kehidupan itu sendiri: manusia berjalan maju tanpa benar-benar mengetahui apa yang menantinya. Tiket dan merek pesawat melambangkan simbol administratif dan teknologis yang sering dianggap sebagai jaminan, tetapi sesungguhnya tidak mampu menghapus kecemasan paling mendasar tentang hidup dan mati.
Kecemasan penyair menunjukkan kesadaran bahwa manusia kerap menyerahkan hidupnya pada sistem, orang lain, atau kekuatan yang tidak ia pahami sepenuhnya.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa tegang, cemas, dan muram. Malam, kerumunan penumpang, dan keheningan batin penyair menciptakan atmosfer psikologis yang menekan, seolah setiap detik perjalanan adalah pertaruhan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat ditafsirkan sebagai ajakan untuk menyadari keterbatasan manusia. Puisi ini mengingatkan bahwa di balik teknologi, dokumen resmi, dan rutinitas modern, manusia tetap makhluk rapuh yang hidup dalam ketidakpastian dan membutuhkan kesadaran, keberanian, serta kepasrahan batin.
Puisi "Terbang dalam Gelap" adalah puisi reflektif yang jujur dan manusiawi. Abrar Yusra berhasil mengubah pengalaman perjalanan biasa menjadi perenungan tentang hidup, ketidakpastian, dan kecemasan eksistensial yang diam-diam dialami banyak orang, tetapi jarang diucapkan.
Puisi: Terbang dalam Gelap
Karya: Abrar Yusra
Biodata Abrar Yusra:
- Abrar Yusra lahir pada tanggal 28 Maret 1943 di Lawang Matur, Agam, Sumatra Barat.
- Abrar Yusra meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 2015 di Bogor, Jawa Barat (pada umur 72 tahun).