Puisi: Tiada Lagi Kata-Kata Bersayap Bulan (Karya Adri Darmadji Woko)

Puisi karya Adri Darmadji Woko ini bercerita tentang seseorang yang memilih berterus terang kepada sosok “kau”. Ia menyatakan bahwa tidak ada lagi ...
Tiada Lagi Kata-Kata Bersayap Bulan,
Atau Langit Tinggi untuk Mencoba Merayumu

Jika aku mesti berterus terang, baiklah, tidak ada lagi
yang kusembunyikan kepadamu.
Percakapan yang bisa meneduhkan dingin yang tiba
apalagi menggunjingkan dunia tambah tua.
Sendiri-sendiri menebak peruntungan di pinggir jalan
Mungkin saja bisa sekejap menyembunyikan ketidaktentuan.
Tiada lagi kata-kala bersayap, bulan, atau langit tinggi
untuk mencoba merayumu setiap kali aku datang padamu
di suatu hari yang dinginnya menggigilkan selimut
di atas tempat tidurku. Atau mau kaulemparkan daku
pada perapian yang kekal selamanya.
Tapi berilah aku kesempatan sekali lagi
untuk mencoba menghilangkan serpihan-serpihan hitam di mulutku
setelah menggigit-gigit perempuan jalanan.

1974

Sumber: Horison (April, 1977)

Analisis Puisi:

Puisi “Tiada Lagi Kata-Kata Bersayap Bulan, Atau Langit Tinggi untuk Mencoba Merayumu” menghadirkan suara liris yang jujur, getir, sekaligus reflektif. Judulnya yang panjang dan metaforis sejak awal memberi kesan penyangkalan terhadap romantisisme lama—sebuah pernyataan bahwa bahasa puitik yang indah, luhur, dan menggoda sudah tidak lagi memadai untuk menutupi kegamangan batin dan kenyataan hidup yang kian telanjang. Puisi ini bergerak di wilayah pengakuan, kelelahan emosional, serta pertarungan antara hasrat, rasa bersalah, dan keinginan untuk diberi kesempatan kembali.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kejujuran yang pahit dalam relasi manusia, khususnya relasi intim yang telah kehilangan ilusi romantiknya. Selain itu, puisi ini juga memuat tema-tema turunan seperti:
  • Keletihan eksistensial.
  • Kehilangan daya pikat bahasa cinta.
  • Rasa bersalah dan pengakuan dosa personal.
  • Kerinduan akan penebusan atau kesempatan kedua.
Tema tersebut terjalin melalui nada pengakuan yang lugas, bahkan cenderung kasar, sebagai bentuk perlawanan terhadap kepalsuan bahasa manis yang selama ini kerap dipakai untuk menyamarkan luka.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seseorang yang memilih berterus terang kepada sosok “kau”. Ia menyatakan bahwa tidak ada lagi yang disembunyikan. Kata-kata indah, percakapan penghangat, maupun metafora bulan dan langit tinggi—yang biasanya dipakai untuk merayu—tidak lagi digunakan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada penolakan terhadap kepura-puraan. Hilangnya “kata-kata bersayap” menandakan kematian romantisisme semu—bahwa cinta, hubungan, dan kehidupan tidak selalu bisa diselamatkan oleh bahasa yang indah.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini membangun suasana muram, dingin, dan getir, dengan lapisan emosional berupa:
  • Rasa lelah dan pasrah.
  • Ketegangan antara harapan dan ketakutan.
  • Kesunyian batin yang mendalam.
Dingin, selimut, malam, dan perapian menjadi elemen suasana yang menegaskan kondisi psikologis: terasing, menggigil, dan berada di ambang antara diterima atau ditolak.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa kejujuran, meski menyakitkan, lebih bermakna daripada keindahan palsu. Puisi ini juga menyiratkan pesan bahwa:
  • Setiap manusia membawa luka dan dosa.
  • Permintaan maaf dan kesempatan kedua adalah bagian dari kemanusiaan.
  • Relasi yang jujur menuntut keberanian untuk membuka sisi tergelap diri.
Puisi ini tidak menggurui, tetapi mengajak pembaca menyelami kompleksitas moral dan emosional manusia tanpa penghakiman sederhana.

Puisi “Tiada Lagi Kata-Kata Bersayap Bulan, Atau Langit Tinggi untuk Mencoba Merayumu” adalah puisi pengakuan yang berani dan tidak nyaman. Adri Darmadji Woko menghadirkan suara liris yang menolak romantisasi berlebihan, memilih kejujuran yang getir sebagai jalan berbicara. Puisi ini memperlihatkan bahwa dalam dunia yang menua dan relasi yang retak, kata-kata indah mungkin kehilangan daya, tetapi pengakuan—meski rapuh—masih menyimpan harapan akan pemulihan.

Puisi ini relevan dibaca sebagai refleksi tentang relasi manusia modern: jujur, terluka, dan terus mencari kesempatan untuk menjadi lebih utuh.

Puisi: Tiada Lagi Kata-Kata Bersayap bulan
Puisi: Tiada Lagi Kata-Kata Bersayap Bulan
Karya: Adri Darmadji Woko

Biodata Adri Darmadji Woko:
  • Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.