Puisi: Tiba-Tiba Januari (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Tiba-Tiba Januari” karya Gunoto Saparie bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang tersadar bahwa waktu berjalan begitu cepat hingga ...
Tiba-Tiba Januari

begitu cepat hari-hari lewat
tiba-tiba telah datang januari
begitu nikmat mengunyah khuldi
bahkan ketika malaikat melepaskan isyarat

begitu cepat bulan-bulan berlalu
begitu deras darah mengalir berpacu
ketika bertikai budi dan nafsu
di dalam kalbu, di dalam diriku

begitu cepat tahun-tahun lewat 
hendak ke manakah kita?
di penanggalan nomormu tercatat
suka dan duka memang senantiasa ada

2023

Analisis Puisi:

Puisi “Tiba-Tiba Januari” karya Gunoto Saparie menghadirkan refleksi singkat namun mendalam tentang waktu, kesadaran manusia, dan pergulatan batin yang terus berlangsung seiring pergantian hari, bulan, dan tahun. Dengan diksi sederhana namun sarat makna simbolik, penyair mengajak pembaca merenungi kecepatan hidup serta arah perjalanan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kefanaan waktu dan perenungan hidup. Pergantian hari, bulan, dan tahun menjadi simbol cepatnya kehidupan berlalu, sekaligus mengingatkan manusia akan pertanyaan eksistensial tentang tujuan dan makna hidup.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang tersadar bahwa waktu berjalan begitu cepat hingga “tiba-tiba telah datang januari”. Kesadaran itu dibarengi dengan refleksi tentang pergulatan moral—pertarungan antara budi dan nafsu—serta pencatatan suka dan duka yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa manusia kerap terlena oleh kenikmatan dunia, digambarkan lewat metafora “mengunyah khuldi”, hingga lupa pada tanda-tanda peringatan dan waktu yang terus berjalan. Januari bukan sekadar bulan, melainkan simbol awal yang datang tiba-tiba, memaksa manusia bertanya: ke mana arah hidup ini akan menuju?

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa reflektif dan kontemplatif. Ada nuansa kegelisahan yang tenang, sekaligus kesadaran sunyi tentang perjalanan waktu dan pergulatan batin yang tak pernah selesai.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini mengajak pembaca untuk lebih sadar terhadap waktu dan kehidupan. Manusia diingatkan agar tidak larut dalam kenikmatan sesaat, tetapi berani bertanya tentang arah hidup, serta menerima bahwa suka dan duka adalah bagian alami dari perjalanan manusia.

Puisi “Tiba-Tiba Januari” merupakan puisi reflektif yang sederhana dalam bentuk, tetapi kaya makna. Gunoto Saparie berhasil menghadirkan kesadaran tentang waktu, godaan hidup, dan pertanyaan eksistensial yang kerap muncul ketika manusia menoleh ke belakang dan menyadari: hari-hari telah berlalu begitu cepat.

Gunoto Saparie
Puisi: Tiba-Tiba Januari
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.