Voila
Aku adalah orang yang berada jauh
di sudut malam. Beringsut-ingsut di celah gelap.
Berselingkuh di subuh-subuh riuh.
Kugilas duka jadi luka
Kutepis sepi jadi nyeri
Aku kelojotan di jauh malam. Melagukan sorga
dan kehangatan, Voila
Aku terhuyung di jauh malam. Menerkam rindu
dan kekecewaan, Voila
Aku mengerang mengaum bimbang
Kudedah sejarah dalam darahku. Kuterjang lengang
dalam tembangku. Saat bibirmu merekah menyemburkan
resah para penyair yang gelisah di lembah-lembah.
Aku kasmaran menyanyikan lagu para musafir yang
tersesat-sesat di rimba raya, Wahai! Adakah aku
masih tersisa seperti sediakala?
Kini aku sudah menyeberangi malam
Aku bebas menafsirkan gemuruh dalam hatimu.
Aku bebas mengurai perih dalam rintihmu. Sebab
dingin dan keringat telah lumat dalam pekat.
Karena hasrat dan taubat tak lagi bersinggat-singgat.
Aku berdansa dalam nganga
Aku menari di duri-duri
Mereguk kegetiranMu
Engkau di mana Voila?
Temani aku menenggak arak pada marak kasihMu
Pada makam-makamku yang hitam pada lumut-lumut
di selimutku pada kubur-kuburku yang di gusur.
Temani aku Voila! Temani aku!
Menikam diam menebas bebas di perih-perih ini.
Musik apalagi akan mengusik kasmaran ini; Lagu
apalagi akan merayu kenestapaan ini: Dansa apalagi
akan melepas siksa-siksa ini jika aku kini lenyap
di sergap gelap?
Biarkan aku terkapar pada altarMu
sampai fajar menebarkan cahayaNya dalam
lapar-laparku!!
Solitude, 1987-1988
Sumber: Horison (April, 1989)
Analisis Puisi:
Puisi "Voila" karya M. Nasruddin Anshoriy Ch merupakan puisi panjang bernuansa gelap, lirih, sekaligus spiritual. Puisi ini bergerak dari kegelisahan batin yang liar menuju suatu titik penyerahan dan pencarian makna. Penyair hadir sebagai sosok yang terombang-ambing di malam, bergulat dengan duka, rindu, hasrat, dan taubat, hingga akhirnya berhadapan dengan kekosongan dan harapan akan cahaya fajar.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pergulatan batin manusia dalam pencarian makna hidup dan spiritualitas. Tema lain yang mengiringinya adalah keterasingan, kegelisahan eksistensial, cinta, dosa, dan kerinduan akan pembebasan atau pencerahan.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan seseorang yang berada “jauh di sudut malam”, sebuah ruang simbolik yang menandai keterasingan dan kesendirian. Penyair menelusuri malam dengan luka, rindu, dan kebimbangan, sambil menyanyikan lagu para musafir yang tersesat. Setelah “menyeberangi malam”, ia merasa bebas menafsirkan perih dan gemuruh batin, namun tetap diliputi kegetiran hingga akhirnya berserah di “altarMu” sambil menanti fajar.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada perjalanan spiritual manusia yang penuh konflik. Malam menjadi simbol fase gelap kehidupan: dosa, hasrat, luka, dan kebingungan. “Voila” dapat dibaca sebagai seruan, penanda momen, atau bahkan sosok imajiner yang menjadi tempat bertanya dan berharap. Puisi ini menyiratkan bahwa pembebasan tidak hadir secara instan, melainkan melalui pengakuan luka, kegetiran, dan keberanian untuk berserah.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi dominan muram, intens, dan gelisah. Nuansa gelap malam, darah, luka, kubur, dan altar membangun atmosfer tekanan batin yang kuat. Namun di bagian akhir, muncul suasana pasrah dan harap, terutama ketika aku-lirik menanti fajar dan cahaya.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa manusia tidak bisa menghindari kegelisahan dan luka dalam hidup, tetapi dapat menghadapinya dengan kejujuran dan keberanian untuk berserah. Puisi ini mengingatkan bahwa di balik kegelapan dan kegetiran, selalu ada kemungkinan cahaya, selama manusia mau menempuh perjalanan batin hingga tuntas.
Puisi "Voila" adalah puisi yang padat, intens, dan sarat pergulatan batin. M. Nasruddin Anshoriy Ch menghadirkan puisi sebagai ruang pengakuan, perlawanan, sekaligus penyerahan diri. Melalui bahasa yang liar, musikal, dan simbolik, puisi ini menggambarkan manusia yang terluka, tersesat, namun tetap berharap menemukan cahaya di ujung malam.
Karya: M. Nasruddin Anshoriy Ch
Biodata M. Nasruddin Anshoriy Ch:
- M. Nasruddin Anshoriy Ch (biasa dipanggil Gus Nas) lahir pada tanggal 4 Mei 1965 di Yogyakarta.
- Ia menulis artikel, puisi, kolom, dan resensi buku di berbagai media, termasuk di antaranya Horison, Sinar Harapan, Prisma, Pelita, Amanah, Panji Masyarakat dan Kompas.
