Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Wajah Kekalahan (Karya Rizal De Loesie)

Puisi "Wajah Kekalahan" karya Rizal De Loesie bercerita tentang seseorang yang terjebak dalam perang batin. Ia bersujud pada napasnya sendiri, ...

Wajah Kekalahan

Aku bersujud pada nafasku
kabut berlutut di dalam dada.
Tanganku digembok gema,
mulutku menetas mantra-mantra usang
yang memijak serangga cahaya
di rongga kesadaran

Senja menjilat wajah realitas,
menggulung fakta menjadi benang merah,
menenun jubah dosa
bagi waktu yang telanjang

Langit menganga, luka
melahirkan ampun ke tanah yang retak.
Aku menengadah dari perang batin,
ketika angka tumbuh menjadi tulang
dan setiap mula runtuh
ke rahim hasrat
yang tak pernah belajar berpikir

Aku bersujud pada nafasku,
mengais denyut di puing sunyi,
mencari suara-suara bisikan
untuk membasuh nuraniku

hingga kebenaran meleleh seperti lilin,
dan kekalahan
menjadi satu-satunya wajah
yang berani kuterima.

Bandung, Januari 2026

Analisis Puisi:

Puisi "Wajah Kekalahan" karya Rizal De Loesie merupakan sajak reflektif yang bergerak di wilayah batin manusia. Penyair tidak menghadirkan kekalahan sebagai peristiwa lahiriah semata, melainkan sebagai pengalaman eksistensial yang lahir dari pergulatan nurani, hasrat, dan kesadaran. Bahasa yang digunakan cenderung simbolik dan metaforis, sehingga puisi ini menuntut pembacaan yang perlahan dan kontemplatif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekalahan batin dan pergulatan manusia dengan dirinya sendiri. Kekalahan dipahami sebagai hasil dari konflik antara nurani, hasrat, dosa, dan kebenaran yang terus diuji oleh waktu.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terjebak dalam perang batin. Ia bersujud pada napasnya sendiri, menandakan proses perenungan mendalam terhadap keberadaannya. Dalam perjalanan batin itu, realitas digulung, dosa ditenun, dan kebenaran perlahan meleleh. Hingga akhirnya, penyair menerima kekalahan sebagai satu-satunya wajah yang sanggup ia hadapi dengan jujur.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa kekalahan bukan selalu sesuatu yang harus ditolak. Kekalahan justru bisa menjadi bentuk kejujuran tertinggi manusia terhadap dirinya sendiri. Ketika hasrat “tak pernah belajar berpikir” dan nurani terluka, penerimaan atas kekalahan menjadi jalan menuju kesadaran, meski pahit dan menyakitkan.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi cenderung muram, intens, dan penuh tekanan batin. Nuansa gelap terasa melalui kata-kata seperti “kabut”, “luka”, “dosa”, dan “puing sunyi”. Namun, di balik kemuraman itu terselip suasana reflektif yang mendalam, seolah puisi ini adalah doa yang lahir dari kelelahan spiritual.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan amanat bahwa manusia perlu berani menghadapi kekalahan dalam dirinya sendiri. Penerimaan terhadap kegagalan, dosa, dan keterbatasan justru membuka jalan bagi penyucian nurani. Kekalahan bukan akhir, melainkan titik kejujuran yang memungkinkan manusia kembali belajar memahami kebenaran.

Puisi "Wajah Kekalahan" adalah puisi perenungan yang menempatkan kekalahan sebagai pengalaman batin yang kompleks dan manusiawi. Rizal De Loesie tidak mengagungkan kemenangan, melainkan mengajak pembaca menatap kekalahan dengan keberanian dan kejujuran sebagai bagian dari proses memahami diri dan kebenaran.

Rizal De Loesie
Puisi: Wajah Kekalahan
Karya: Rizal De Loesie

Biodata Rizal De Loesie:
  • Rizal De Loesie (nama pena dari Drs. Yufrizal, M.M) adalah seorang ASN Pemerintah Kota Bandung. Penulis puisi, cerpen dan artikel pendidikan. Telah menerbitkan beberapa buku puisi solo dan puisi antologi bersama, serta cerita pendek.
© Sepenuhnya. All rights reserved.