Analisis Puisi:
Puisi "Waktu" menampilkan renungan tajam tentang relasi manusia dengan waktu sebagai kekuatan yang tak terelakkan. Kuntowijoyo menggambarkan waktu bukan sebagai aliran netral, melainkan sebagai entitas buas yang aktif “membunuh”, “membantai”, dan “menerkam” manusia beserta seluruh pencapaian peradabannya. Dengan bahasa keras dan metaforis, puisi ini mengajak pembaca menyadari rapuhnya eksistensi manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kekuasaan waktu atas kehidupan manusia dan peradaban. Puisi ini juga mengangkat tema kefanaan, kealpaan manusia, dan ilusi keabadian yang sering disematkan pada sejarah dan agama.
Puisi ini bercerita tentang seorang “engkau” yang berhadapan dengan waktu sebagai musuh yang tak kasatmata. Satu kelalaian kecil—lupa mengucap selamat pagi—cukup membuat identitas berubah. Waktu digambarkan menghancurkan segalanya: manusia biasa, nabi, kerajaan, kitab suci, hingga peradaban yang tercatat dalam sejarah. Penyair kemudian mengajak “engkau” untuk merenung, bahkan membayangkan perlawanan terhadap waktu sebelum sepenuhnya diterkam.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kesombongan manusia yang merasa berkuasa atas hidupnya. Pujian terhadap waktu—dalam bentuk rutinitas, ambisi, dan penundaan—justru membuat manusia semakin terperangkap. Ajakan “membunuh waktu” dapat dibaca sebagai metafora untuk merebut kesadaran, mengelola hidup secara bermakna, dan tidak tunduk sepenuhnya pada arus waktu yang mematikan.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana tegang, getir, dan mengancam. Kehadiran waktu sebagai sosok predator menimbulkan rasa cemas dan kewaspadaan yang terus-menerus.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditarik adalah peringatan agar manusia tidak lalai dan terlena oleh waktu. Hidup perlu dijalani dengan kesadaran, disiplin, dan tanggung jawab, sebab waktu tidak pernah berpihak dan selalu menuntut harga dari setiap kelengahan.
Puisi "Waktu" karya Kuntowijoyo merupakan refleksi keras tentang kefanaan dan kelalaian manusia. Dengan diksi yang tegas dan imaji predatoris, puisi ini mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar latar hidup, melainkan kekuatan aktif yang menuntut kesadaran penuh—sebab tanpa itu, manusia akan “dibunuh” oleh kelengahannya sendiri.
Karya: Kuntowijoyo
Catatan:
- Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A.
- Kuntowijoyo lahir pada tanggal 18 September 1943 di Sanden, Bantul, Yogyakarta.
- Kuntowijoyo meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 2005 (pada usia 61 tahun).
