Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Waktu (Karya Kuntowijoyo)

Puisi "Waktu" karya Kuntowijoyo adalah kritik terhadap kesombongan manusia yang merasa berkuasa atas hidupnya. Pujian terhadap waktu—dalam bentuk ...
Waktu

Engkau dibunuh waktu
Sekali lupa mengucap selamat pagi
tiba-tiba engkau sudah bukan engkau lagi
Waktu membantai bajingan dan para nabi
kerajaan-kerajaan kitab suci
peradaban di buku sejarah
Semua harus menyerah.

Engkau sibuk memuji namanya
selagi ia berusaha menghinakanmu
memendammu di bawah batu-batu
(Engkau tak bisa berteriak
ia juga melahirkan koor yang berisik dan keras)

Seperti singa lapar
ia duduk di meja
sudah mencakarmu
selagi engkau bersantap

Ssst, pikirkanlah
bagaimana engkau bisa membunuhnya
sebelum sempat ia menerkammu.

Sumber: Isyarat (1976)

Analisis Puisi:

Puisi "Waktu" menampilkan renungan tajam tentang relasi manusia dengan waktu sebagai kekuatan yang tak terelakkan. Kuntowijoyo menggambarkan waktu bukan sebagai aliran netral, melainkan sebagai entitas buas yang aktif “membunuh”, “membantai”, dan “menerkam” manusia beserta seluruh pencapaian peradabannya. Dengan bahasa keras dan metaforis, puisi ini mengajak pembaca menyadari rapuhnya eksistensi manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekuasaan waktu atas kehidupan manusia dan peradaban. Puisi ini juga mengangkat tema kefanaan, kealpaan manusia, dan ilusi keabadian yang sering disematkan pada sejarah dan agama.

Puisi ini bercerita tentang seorang “engkau” yang berhadapan dengan waktu sebagai musuh yang tak kasatmata. Satu kelalaian kecil—lupa mengucap selamat pagi—cukup membuat identitas berubah. Waktu digambarkan menghancurkan segalanya: manusia biasa, nabi, kerajaan, kitab suci, hingga peradaban yang tercatat dalam sejarah. Penyair kemudian mengajak “engkau” untuk merenung, bahkan membayangkan perlawanan terhadap waktu sebelum sepenuhnya diterkam.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kesombongan manusia yang merasa berkuasa atas hidupnya. Pujian terhadap waktu—dalam bentuk rutinitas, ambisi, dan penundaan—justru membuat manusia semakin terperangkap. Ajakan “membunuh waktu” dapat dibaca sebagai metafora untuk merebut kesadaran, mengelola hidup secara bermakna, dan tidak tunduk sepenuhnya pada arus waktu yang mematikan.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana tegang, getir, dan mengancam. Kehadiran waktu sebagai sosok predator menimbulkan rasa cemas dan kewaspadaan yang terus-menerus.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditarik adalah peringatan agar manusia tidak lalai dan terlena oleh waktu. Hidup perlu dijalani dengan kesadaran, disiplin, dan tanggung jawab, sebab waktu tidak pernah berpihak dan selalu menuntut harga dari setiap kelengahan.

Puisi "Waktu" karya Kuntowijoyo merupakan refleksi keras tentang kefanaan dan kelalaian manusia. Dengan diksi yang tegas dan imaji predatoris, puisi ini mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar latar hidup, melainkan kekuatan aktif yang menuntut kesadaran penuh—sebab tanpa itu, manusia akan “dibunuh” oleh kelengahannya sendiri.

Puisi: Waktu
Puisi: Waktu
Karya: Kuntowijoyo

Catatan:
  • Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A.
  • Kuntowijoyo lahir pada tanggal 18 September 1943 di Sanden, Bantul, Yogyakarta.
  • Kuntowijoyo meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 2005 (pada usia 61 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.