Wartawan
(cendera mata bagi HUT PWI ke-46 dan HPN ke-8)
Kata orang wartawan adalah pencari obyek
tapi tentu saja bukan tukang obyek
apalagi tukang ojek
Orang bilang wartawan adalah pemburu
tapi yang diburu cuma orang-orang
orang yang berbunuh-bunuhan
orang-orang yang sedang kesepian
kadang-kadang juga orang-orang yang bercintaan
dan orang-orang yang melanggar berbagai rambu-rambu
larangan
Dulu ada wartawan perintis
yang satu persatu pergi dan semakin habis
yang hanya tinggal nama mewariskan pena
untuk generasi berikutnya
Ada juga wartawan pergerakan
sebelum kemerdekaan
yang hidupnya selalu dalam kegelisahan
atas intaian dan kejaran antek-antek penjajahan
Orang mengatakan jadi wartawan itu enak juga
buktinya dapat montar-mandir antarkota
bahkan antarnegara mengelilingi dunia
ikut rombongan menteri atau kepala negara
Sungguh senjata wartawan – senjata pena
kata orang lebih tajam dari pedang
Betul juga
karena senjatanya dapat membikin orang mati kejang
Suse juge ye, itu si pemburu berite
kata seorang artis ibukota
Apa susenye, tanya artis yang lebih tua
Habis gue sedang digosipin
Itu karena lu juge nyang gara-gara-in
nyeletuk artis yang lain
Wartawan adalah orang-orang yang selalu peduli
yang tidak dapat mengatur waktu sendiri
dan tak sempat bermesraan dengan anak istri
Tapi tanpa wartawan dunia jadi sepi
karena ia dapat saja menemukan orang-orang yang menutup diri
yang menyambutnya dengan menggerutu di dalam hati
Salah-salah saya akan malu setengah mati
akan diungkapkan oleh si wartawan ini
Ada wartawan
karena ada A.A. Hamidhan dan Kony Farhan
Ada wartawati
karena ada Umi Sri Wahyuni dan Diniarti
Biar wartawan sudah bakuliling kada ampih-ampih
Tapi sidin kada sugih-sugih
Mun sidin tahutang asa kada purun managih
Banjarmasin, 25 Februari 1992
Sumber: Malam Hujan (2012)
Analisis Puisi:
Puisi "Wartawan" karya Hijaz Yamani merupakan potret reflektif-profesional tentang dunia kewartawanan, ditulis dengan gaya lugas, komunikatif, dan sesekali jenaka. Puisi ini tidak mengagungkan wartawan secara berlebihan, tetapi menempatkannya sebagai profesi yang hidup di tengah paradoks: antara idealisme dan gosip, antara pengabdian dan keterbatasan hidup, antara kekuatan pena dan risiko sosial yang menyertainya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah peran, dilema, dan pengabdian wartawan dalam kehidupan sosial dan sejarah bangsa. Puisi ini juga menyentuh tema tanggung jawab moral, perjuangan, serta realitas keseharian profesi jurnalistik.
Puisi ini bercerita tentang sosok wartawan dari berbagai sudut pandang:
- Wartawan sebagai pencari fakta (bukan “tukang ojek” atau sekadar pemburu sensasi),
- Wartawan sebagai pemburu manusia dan peristiwa—baik tragedi, kesepian, cinta, maupun pelanggaran,
- Wartawan perintis dan wartawan pergerakan yang hidup dalam tekanan sejarah,
- Wartawan masa kini yang bepergian lintas kota dan negara, namun tetap dibebani tanggung jawab sosial dan keluarga.
Puisi ini juga menghadirkan suara publik—termasuk artis—yang merasa terganggu oleh pemberitaan, memperlihatkan relasi tegang antara wartawan dan objek liputan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah penegasan bahwa wartawan bukan sekadar profesi teknis, melainkan panggilan sosial. Di balik mobilitas, gosip, dan stereotip, wartawan memikul beban etis yang besar. Penyebutan tokoh-tokoh wartawan (A.A. Hamidhan, Kony Farhan, Umi Sri Wahyuni, Diniarti) menyiratkan penghormatan pada individu-individu nyata yang memberi wajah pada profesi ini, termasuk pengakuan terhadap peran wartawati.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana reflektif, akrab, dan sesekali satiris. Nada humor ringan bercampur dengan kesadaran historis dan empati terhadap kelelahan profesi wartawan, sehingga suasana puisi terasa hidup dan membumi.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menghargai kerja wartawan secara adil dan manusiawi. Puisi ini mengingatkan bahwa di balik berita yang tajam ada pengorbanan waktu, tenaga, dan kehidupan keluarga. Wartawan diharapkan tetap peduli dan bertanggung jawab, sementara masyarakat diajak untuk tidak semata-mata mencurigai atau meremehkan peran mereka.
Puisi "Wartawan" karya Hijaz Yamani adalah refleksi jujur dan hangat tentang profesi jurnalistik—tidak heroik secara berlebihan, namun sarat penghormatan. Ditulis dalam konteks perayaan PWI dan HPN, puisi ini menjadi cendera mata yang menegaskan bahwa wartawan hidup di antara keberanian dan keterbatasan, namun tetap “sedia peduli” demi dunia yang tidak sepi oleh kebenaran.
