Puisi: Yang Ditulis (Karya Badruddin Emce)

Puisi “Yang Ditulis” karya Badruddin Emce mengajak pembaca menelusuri makna keberangkatan, penolakan, serta harga dari sebuah pengalaman—terutama ...
Yang Ditulis

Sendirian, dan bahkan tanpa dukungan empat kekasih
yang berkoalisi,
kunyatakan rasa tak sukaku.

Betapa engkau bukan lagi kawanan kata yang diburu,
dirundung takut,
dan senantiasa sibuk mengibaslepaskan rasa takut.

Menjadi ucapan sehari-hari,
hingga orang malu hidup sekedarnya,
merasa tak lengkap jika belum menghargai orang lain
atau apapun yang terlintas.

Ingin pergi dan tetap seperti itu?
Begitu mungkin lebih baik.
Pergilah sebelum engkau dikira pikiran tanpa dasar dan berantakan.

Harapan berlebihan orang sadar kenyataan.

Lebih menjijikkan dari rona kesedihan yang dipertontonkan
seorang menteri yang keliru langkah.

Mungkin sehari lagi, sejam lagi, empatbelas menit lagi,
duapuluhtujuh detik lagi,
setengah detik lagi, saat ini bahkan,
engkau hanya lolong kosong di beberapa detik termalam.

Silakan pergi. Tapi baru beberapa langkah
engkau akan merindukan,
betapa di sini, kapan pun bisa saling memberi
sekalian menolak yang disuka.
Merahasiakan biung bunyi atau mencerahkan dengan
sejentik api.

Memuja pekan kosong atau menentukan keberuntungan
dengan suara tekek.
Abaikan tetes pedih pagi hari atau kesetiaan musim hujan.

Pergilah! Sebelum mlethek fajar,
seekor gajah menggosok-gosokkan tubuh
ke batang rambutan depan rumah.
Maka bangunlah. Duduk sebentar di pinggir ranjang.
Engkau akan didukung hingga sebelum subuh
telah menyalakan api di sebuah pantai.
Menggelar tikar di bidang datar sebongkah karang.

Usai sarapan, seekor hiu yang pernah, darahnya
duabelas tahun lebih mendenyutkan nadi para rompak
hingga sejarah tak kuasa nolak, akan mengantarmu
ke seberang,
di mana seekor celeng ngiring telah menunggu sambil menyusui.

Selebihnya, telanjang kaki, engkau akan mengikuti jejak
nrobos hamparan alang-alang,
menghindari lubang jebakan dan jerat yang dipasang
peladang liar.
Sesekali berjalan di atas pecahan batu kapur runcing.
Menuruni jurang hingga dasar.

Hingga yang kautemukan dan makan – cacing tanah,
sisa buah mulai membusuk, sekerumun belatung pada
bangkai hewan –
membuatmu merasa diterima tanpa harus seperti mereka:

Melata lalu melilitkan tubuh ke pohon seperti sanca luwuk
yang kelak dikuliti.

Berjalan dengan empat kaki seperti barongan ebeg,
atau dua kaki seperti pencuri kayu yang sangat percaya
diri.

Mengendus
sambil mengibas-ngibaskan ekor seperti anjing polisi hutan.

Mengaum seperti macan loreng yang telah diawetkan
dalam keadaan menyeringai.
Melolong.
Memekik.

Mengepakkembangkan sayap seperti bangau tong tong sombong
yang lama meninggalkan dongeng. Menukik. Mematuk.

Mencengkeram seperti elang yang bahagia
mendapat seekor tikus wirog.
Hinggap seperti gemalo yang sayapnya digetarkan
gempa.

Meloncat turun seperti beruk yang terlambat
melindungi betinanya.
Menyelam menghindari terkaman seperti kodok.
Mengubah warna kulit.
Menyelinap seperti gemek.
Menyengat seperti tawon gung terakhir.
Menghisap seperti lintah.

Ya, tanpa harus seperti mereka, engkau bisa lebih tajam.
Bisa masuk lebih dalam!

Menyibak belukar. Memenggal akar menghalang langkah.
Menguak pori-pori kulit pohon.

Jika getah bening menjadi beku karena kehadiranmu,
maka yang merasa kuat akan menetes, menetapkanmu
sebagai ancaman.
Dan jika pendendam tahu, bahwa yang kaubawa
sesuatu yang tak terhindarkan, sungguh engkau beruntung.
Engkau akan diterima dengan sedikit bijak.
Didaulat jadi yang terjaga
sampai tak bisa melakukan apapun yang engkau suka.

Sekali lagi, pergilah. Jika sekedar ingin berpanjanglebar
Jangan coba-coba kembali.

Sebab yang engkau ceritakan dengan bangga
mungkin hanya untuk seuntai belas kasih atau setepuk kagum.
Harga murah untuk sesuatu yang ditulis!

Kroya, 2010

Sumber: Diksi Para Pendendam (2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Yang Ditulis” karya Badruddin Emce merupakan teks panjang yang bergerak di antara perenungan personal, kritik sosial, dan alegori eksistensial. Dengan gaya bahasa yang padat, imajinatif, dan penuh repetisi imperatif, puisi ini seolah mengajak pembaca menelusuri makna keberangkatan, penolakan, serta harga dari sebuah pengalaman—terutama pengalaman yang kemudian “ditulis”.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan kesadaran dan penolakan terhadap kepalsuan makna. Puisi ini juga mengangkat tema kritik terhadap banalitas ucapan, kepura-puraan sosial, dan harga murah dari pengalaman yang hanya dijadikan cerita. Selain itu, terdapat tema eksistensial, yakni pencarian jati diri melalui keterasingan, penderitaan, dan keberanian untuk masuk lebih dalam ke wilayah yang berbahaya, liar, dan tidak nyaman.

Puisi ini bercerita tentang sosok “engkau”—figur kedua yang terus-menerus diperintah untuk “pergi”. Kepergian ini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan perjalanan batin dan pengalaman ekstrem: melintasi alam liar, berhadapan dengan binatang, bahaya, naluri, dan kekerasan hidup. Sosok “engkau” diajak meninggalkan kenyamanan bahasa, ucapan sehari-hari, dan pengakuan sosial, lalu diuji dalam pengalaman mentah yang tak bisa dipalsukan. Namun pada akhirnya, perjalanan itu dipertanyakan kembali: apakah semua itu hanya akan menjadi cerita yang dijual murah lewat tulisan?

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada kritik terhadap kecenderungan manusia—terutama intelektual atau penulis—yang mengagungkan pengalaman ekstrem, penderitaan, dan petualangan hanya sebagai bahan narasi. Puisi ini menyindir bagaimana sesuatu yang berat, berbahaya, dan penuh risiko bisa direduksi menjadi sekadar cerita heroik demi simpati, belas kasih, atau kekaguman. Ada pula sindiran terhadap bahasa yang kehilangan daya kritisnya: kata-kata menjadi “ucapan sehari-hari” yang kosong dan tidak lagi diburu atau ditakuti.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini tegang, gelap, dan konfrontatif, terutama karena dominasi kata perintah seperti pergilah, abaikan, menyibak, memenggal. Pada bagian tengah hingga akhir, suasana berubah menjadi liar, brutal, dan mencekam, seiring kemunculan citra binatang buas, tubuh yang terluka, dan alam yang tidak ramah. Di penghujung puisi, suasana menjadi sinis dan getir, saat semua perjalanan itu diringkas sebagai “harga murah untuk sesuatu yang ditulis”.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah peringatan agar pengalaman hidup tidak direduksi menjadi komoditas narasi yang dangkal. Puisi ini menegaskan bahwa tidak semua penderitaan, keberanian, dan keterasingan layak dipamerkan atau dibanggakan. Jika sebuah perjalanan hanya berujung pada pencarian pengakuan, maka lebih baik tidak kembali dan tidak menceritakannya. Menulis, dalam konteks ini, menuntut tanggung jawab etis, bukan sekadar keberanian atau sensasi.

Puisi “Yang Ditulis” merupakan karya yang kompleks dan menantang. Ia tidak hanya mengajak pembaca membaca, tetapi juga mempertanyakan ulang makna menulis, mengalami, dan menceritakan. Dalam dunia yang mudah memberi tepuk kagum dan belas kasih, puisi ini berdiri sebagai pengingat bahwa tidak semua pengalaman layak dirayakan—terutama jika akhirnya hanya menjadi “harga murah untuk sesuatu yang ditulis”.

Badruddin Emce
Puisi: Yang Ditulis
Karya: Badruddin Emce

Biodata Badruddin Emce:
  • Badruddin Emce lahir di Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juli 1962.
© Sepenuhnya. All rights reserved.