Analisis Puisi:
Puisi “Ziarah” karya Diah Hadaning menghadirkan perenungan yang tajam tentang perjumpaan antara ruang sakral dan dunia modern. Melalui latar makam yang terdesak oleh mesin, jalan raya, dan hiruk-pikuk pembangunan, penyair menampilkan ziarah bukan sekadar ritual mengenang orang mati, melainkan pengalaman batin yang sarat kegelisahan dan kesadaran sosial.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ziarah sebagai refleksi kemanusiaan di tengah ancaman modernitas. Puisi ini mengangkat pertentangan antara ketenangan makam dan kerakusan pembangunan yang menggerus ruang sakral.
Puisi ini bercerita tentang kegiatan ziarah ke makam yang kini terhimpit pabrik dan jalan raya. Penyair menyaksikan doa, bunga tabur, dan jalan setapak yang masih bertahan, namun sekaligus merasakan kecemasan akan hilangnya keteduhan dan nilai-nilai kemanusiaan. Ziarah kemudian berkembang menjadi pencarian cinta, ingatan, dan makna hidup.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap pembangunan yang mengabaikan ruang spiritual dan memori kolektif. Ziarah menjadi simbol upaya manusia mempertahankan rasa, cinta, dan kesadaran moral di tengah dunia yang semakin bising dan materialistis.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung muram, cemas, dan reflektif. Deru mesin dan jalan raya menciptakan ketegangan, sementara kehadiran makam dan doa menghadirkan kesunyian yang terancam.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan. Pembangunan seharusnya tidak meniadakan ruang spiritual, ingatan sejarah, dan nilai cinta yang menjadi dasar kehidupan manusia.
Puisi “Ziarah” karya Diah Hadaning menempatkan ziarah sebagai laku batin yang kritis dan sadar zaman. Dengan bahasa yang puitis namun tegas, puisi ini mengingatkan bahwa di tengah laju pembangunan, manusia tetap memerlukan ruang untuk diam, mengenang, memahami, dan berserah.

Puisi: Ziarah
Karya: Diah Hadaning