Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Ziarah (Karya Juniarso Ridwan)

Puisi “Ziarah” karya Juniarso Ridwan bercerita tentang seseorang yang merasa terseret oleh bayangan, kehilangan warna penglihatan, dan terpaku pada ..
Ziarah

siapakah menyeret bayangan ini
mencari sumber cahaya. Penglihatan
semakin kehilangan warna,
terpaku pada kerlip-kerlip bintang

jadilah diri bergerak pada kepekatan abadi,
seperti kelelawar terbang
dengan gema suara. Mempertanyakan
jarak antar ruang kehidupan:
sekadar menilik diri
sebagai larva busuk.

1990

Sumber: Semua Telah Berubah, Tuan (Ultimus, 2006)

Analisis Puisi:

Puisi “Ziarah” karya Juniarso Ridwan menghadirkan perjalanan batin yang gelap, reflektif, dan eksistensial. Judul ziarah biasanya diasosiasikan dengan kunjungan suci atau penghormatan, namun dalam puisi ini ziarah tampak sebagai perjalanan ke dalam diri, menyusuri kesadaran yang rapuh, penuh pertanyaan, dan keterasingan. Bahasa puisi yang padat dan simbolik menuntut pembacaan perlahan serta perenungan mendalam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian jati diri dalam kegelapan dan keterbatasan eksistensi manusia. Puisi menyoroti usaha manusia memahami dirinya sendiri di tengah ketidakpastian dan keretakan makna hidup.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa terseret oleh bayangan, kehilangan warna penglihatan, dan terpaku pada cahaya-cahaya jauh seperti bintang. Ia bergerak dalam “kepekatan abadi” dan mempertanyakan jarak antar ruang kehidupan, hingga akhirnya memandang dirinya sendiri secara kritis dan rendah sebagai “larva busuk”.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa ziarah tidak selalu membawa ketenangan atau jawaban yang terang. Justru, perjalanan batin sering kali membuka kesadaran akan keterbatasan, kerapuhan, dan sisi gelap diri manusia. Pengakuan diri sebagai “larva busuk” menyiratkan sikap rendah hati sekaligus kritik terhadap ego dan kesombongan eksistensial.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa suram, kontemplatif, dan gelisah. Kegelapan, kehilangan warna, dan gerak yang terbatas menciptakan atmosfer batin yang berat dan penuh perenungan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan amanat bahwa pencarian makna hidup menuntut keberanian untuk menatap sisi paling rapuh dalam diri. Kesadaran akan ketidakberdayaan dan kefanaan justru dapat menjadi awal bagi pemahaman diri yang lebih jujur dan mendalam.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji visual dan imaji gelap yang kuat, seperti bayangan yang diseret, warna yang memudar, kerlip bintang, kelelawar terbang dalam gelap, serta larva busuk. Imaji-imaji ini membangun lanskap batin yang muram dan simbolik.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan simbolisme. Bayangan, cahaya, dan bintang menjadi simbol pencarian makna. Kelelawar yang terbang dengan gema suara berfungsi sebagai metafora manusia yang bergerak dalam ketidaktahuan. Sementara “larva busuk” merupakan metafora keras tentang kerendahan dan kefanaan diri manusia.

Puisi “Ziarah” karya Juniarso Ridwan adalah puisi reflektif yang menantang kenyamanan pembaca. Ziarah dihadirkan bukan sebagai perjalanan suci yang terang, melainkan sebagai penelusuran batin yang gelap dan jujur. Puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa memahami diri sendiri sering kali berarti berani menghadapi kerapuhan dan kehampaan yang tersembunyi di dalam diri.

Puisi: Ziarah
Puisi: Ziarah
Karya: Juniarso Ridwan

Biodata Juniarso Ridwan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
© Sepenuhnya. All rights reserved.