Ziarah Pagi
lelah yang membawaku
menuju pekuburan waktu
dan suara rintih angin
dalam desau yang dingin
untuk siapa ziarah ini
jika gelisah yang dituju
untuk siapa ziarah ini
jika langkah menjadi jemu
ziarah pagi yang senyap
mungkinkah menyingkap
cerita tidur panjangmu
yang berlumut dan berdebu
jadilah ziarah bagai kupu-kupu
yang selalu menjebakku
dalam rona kembang yang semu.
1996-1997
Sumber: Horison (Mei, 2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Ziarah Pagi" karya Tri Astoto Kodarie merupakan sajak reflektif yang menempatkan ziarah bukan semata sebagai kegiatan fisik, melainkan sebagai perjalanan batin. Dengan diksi yang sederhana namun simbolik, puisi ini mengajak pembaca merenungi makna lelah, gelisah, dan pencarian makna hidup melalui suasana pagi yang senyap.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perenungan eksistensial tentang ziarah, waktu, dan kegelisahan batin manusia. Ziarah diposisikan sebagai medium untuk menghadapi kelelahan hidup, kesunyian, serta pertanyaan tentang tujuan dan makna perjalanan diri.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang melakukan ziarah pagi, namun ziarah tersebut tidak sepenuhnya jelas ditujukan kepada siapa. Ia berjalan dalam keadaan lelah, seolah memasuki “pekuburan waktu”, ditemani angin dingin yang merintih.
Sepanjang ziarah, penyair mempertanyakan tujuan perjalanannya sendiri: apakah ziarah ini benar-benar bermakna, atau justru hanya pelarian dari kegelisahan dan kejenuhan langkah. Ziarah tersebut kemudian dihadapkan pada bayangan “tidur panjang” seseorang atau sesuatu yang telah lama mati, terlupakan, dan tertutup lumut serta debu.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik halus terhadap ziarah yang kehilangan kedalaman makna batin. Penyair menyiratkan bahwa ziarah bisa menjadi ritual kosong jika hanya dilakukan karena gelisah, jemu, atau sekadar kebiasaan.
Selain itu, “pekuburan waktu” dan “cerita tidur panjang” dapat dimaknai sebagai simbol masa lalu, kenangan, atau nilai-nilai yang telah mati namun masih membebani kesadaran. Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia sering terjebak pada keindahan semu—diibaratkan seperti kupu-kupu yang terperangkap pada bunga—tanpa benar-benar memahami esensi dari pencarian spiritualnya.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, dingin, dan kontemplatif. Pagi digambarkan sebagai waktu yang senyap, dengan desau angin dingin dan nuansa pekuburan yang menambah kesan muram sekaligus reflektif. Kesenyapan tersebut memperkuat suasana perenungan dan kegelisahan batin.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk merefleksikan tujuan dan makna dari setiap perjalanan batin, termasuk ziarah. Penyair seakan mengingatkan bahwa ritual dan pencarian spiritual tidak seharusnya dilakukan secara mekanis, melainkan dengan kesadaran dan kejujuran hati.
Puisi ini juga menyampaikan pesan agar manusia tidak mudah terjebak pada “rona kembang yang semu”, yakni keindahan atau ketenangan palsu yang justru menjauhkan dari pemahaman diri yang lebih mendalam.
Puisi "Ziarah Pagi" karya Tri Astoto Kodarie adalah puisi reflektif yang menyoroti kegelisahan manusia dalam mencari makna hidup dan spiritualitas. Melalui simbol ziarah, waktu, dan kupu-kupu, puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, bertanya, dan menimbang kembali apakah perjalanan yang ditempuh benar-benar menuju kedalaman makna, atau hanya berputar dalam keindahan yang semu.
Puisi: Ziarah Pagi
Karya: Tri Astoto Kodarie
Biodata Tri Astoto Kodarie:
- Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
